Friday, 15 December 2017

Noda Hitam Demokrasi





Menurut para pencetusnya, demokrasi adalah kekuasaan rakyat, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Rakyat adalah pemegang kekuasaan mutlak, di mana rakyat berperan serta langsung menentukan arah kebijaksanaan negaranya dengan memilih wakil yang dia kehendaki secara bebas.
Sistem demokrasi sangat bertentangan dengan hukum Islam ditinjau dari beberapa segi:

Gambar 1.1 Noda Hitam Demokrasi


A. Hukum dan undang-undang buatan manusia

Dalam Islam, hukum dan undang-undang merupakan hak mutlak Allah, sedang Nabi Muhammad hanya menyampaikan.
 Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” (QS al-An‘ām [6]: 57)
Manusia boleh membuat peraturan dan undang-undang selama tidak bertentangan dengan Alquran dan Sunah.
Adapun dalam sistem demokrasi, undang-undang dibuat oleh manusia (baca: perwakilan rakyat dalam parlemen) sehingga mereka membuat hukum dan undang-undang yang tidak berdasar pada agama Islam.
 Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS al-Syūrā [42]: 21).

B. Partai dan perpecahan

Tidaklah samar bagi kita bahwa demokrasi dibangun di atas partai politik, kemudian setiap partai mengajukan wakil mereka dan nantinya salah satu mereka akan dipilih oleh suara mayoritas rakyat dalam pemilu. Begitu pula, tidaklah diragukan bahwa partai merupakan sumber perpecahan dan permusuhan, yang sangat bertentangan dengan agama Islam yang menganjurkan persatuan dan melarang perpecahan.

C. Kebebasan yang melampuai batas

Dalam Islam, kebebasan harus tetap dikendalikan agar sesuai dengan agama Islam dan tidak menerjang rambu-rambunya. Adapun dalam sistem demokrasi, kebebasan memiliki wilayah yang seluas-luasnya tanpa kendali.
Oleh karena itu, tak heran bila dalam hukum demokrasi setiap individu tidak dilarang melakukan aktivitas apa pun selama tidak bertentangan dengan undang-undang, sekalipun dengan murtad dari agama Islam!!! Hanya kepada Allah kita mengadu.

Gambar1.2  Demokrasi Sistem Kufur

D. Suara mayoritas adalah standar

Dalam Islam, standar kebenaran dan kemenangan adalah yang sesuai dengan Alquran dan Sunah sekalipun sedikit orangnya. Adapun dalam sistem demokrasi, standarnya adalah suara dan aspirasi mayoritas rakyat sehingga konsekuensi logisnya adalah apabila mayoritas rakyat suatu negara adalah orang yang rusak maka mereka akan memilih pemimpin yang sesuai dengan selera mereka, karena burung-burung itu berkumpul dengan sesama jenisnya!!

E. Persamaan derajat antara pria dan wanita

Dalam banyak hukum, agama Islam menyetarakan antara pria dan wanita. Namun, dalam sebagiannya, Islam membedakan antara keduanya seperti dalam hukum waris, diyat, aqiqah, persaksian, dan sebagainya. Sementara itu, dalam hukum demokrasi, pria dan wanita setara dalam semua bidang!!!
***
Sumber: Risalah al-‘Adlu fi Syarī‘ah Islām wa Laisa fi Dimuqratiyyah al-Maz‘ūmah karya al-Syaikh ‘Abdul-Muhsin al-‘Abbad hlm. 36–44.


Thursday, 14 December 2017

3 Langkah Bahagia Hidup Sepanjang Hari



3 Langkah Bahagia Hidup Sepanjang Hari

SETIAP manusia mendamba kebahagiaan. Dan, untuk itu (kebahagiaan) Allah menurunkan para Nabi dan Rasul agar dijadikan teladan lengkap dengan Al-Qur’an sebagai panduan.

Namun, sekalipun manusia bisa memahami dengan baik bahwa sebuah motor merek A tidak bisa diperbaiki kecuali sebagaimana panduan dari produsen motor merek A, kebanyakan manusia gagal memahami bahwa tidak ada jalan untuk menggapai bahagia, melainkan sebagaimana panduan dari yang Maha Mencipta.

Semua itu terjadi karena manusia sebagaimana diungkapkan pepatah Arab, “Kebanyakan manusia adalah anak dari kemauannya.” Cenderung memilih memuaskan nafsu daripada mendapatkan ketenangan.Condong memperturutkan ambisi daripada hati nurani. Dan, lebih memilih kesenangan daripada keimanan.

Padahal, andaikata apa yang dilakukan para Nabi dan Rasul tidak membahagiakan, tentu mereka akan menjadi yang pertama meninggalkan risalah Tuhan. Faktanya tidak demikian, para utusan itu justru sangat bahagia, optimis dan terobsesi untuk menyelamatkan kehidupan umat manusia.

Lantas apa dan bagaimana cara yang mesti ditempuh agar kita bisa mencapai kebahagiaan sepanjang hari dalam kehidupan dunia ini?

Pertama, shalat.

Hingga kini, sebagian besar dari umat ini masih banyak yang enjoy meninggalkan kebutuhan hakikinya ini (shalat). Padahal, Nabi tidak pernah main-main dalam masalah shalat. Satu di antara sebab mengapa tidak sedikit orang meninggalkan shalat tidak lain karena anggapan mereka bahwa shalat itu beban, tidak enak dan paling nyata lemah iman, sehingga malas mendirikan shalat.

Gambar 1.1 Tegakkanlah Sholat Untuk Mengingatku.( Thahaa 20:14)


Pada hakikatnya shalat itu adalah jalan terbaik setiap Muslim sampai pada ketenangan dan kebahagiaan.
“Tegakkan shalat untuk mengingat-Ku.“ (QS: Thahaa [20]: 14).
“Ketahuilah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS: Ar-Ra’du [13] : 28).

Hal ini menunjukkan bahwa shalat itu penting dan amat dibutuhkan oleh hati setiap Muslim. Pantas Rasulullah amat mendorong umatnya untuk memperhatikan tiang agama ini (shalat).

Adalah ilustrasi menarik ketika di media sosial ada sebuah motivasi yang mengatakan bahwa saat sendi-sendi tubuh ini lelah, maka Allah memanggil kita dengan janji atau seruan yang sangat menggugah,

“Hayya alash shalat, Hayya alal falah.” Yang Artinya, “Mari dirikan shalat, mari menuju kemenangan.”

Dengan kata lain, siapa meninggalkan shalat ia bukan saja merobohkan agama, tetapi juga terjerembab dalam kekalahan, kegelisahan, dan kesengsaraan.

Kemudian, logika sederhananya, kalau dipanggil kekasih hati sangat luar biasa senang, mengapa tidak demikian saat yang memanggil hati ini adalah pencipta diri sendiri? Shalat adalah paggilan Allah kepada setiap insan beriman untuk mengadu, bersandar, memohon dan berharap sepenuh hati hanya kepada-Nya.

Mulai sekarang berusahalah, kemudian konsistenlah dalam mendirikan shalat. Sebab, jika Alah menempatkan shalat sebagai amal pertama yang akan dihisab, berarti tida akan ada jaminan kebahagiaan sekali bila hingga kini, hati masih malas mendirikan shalat secara berjama’ah dan tepat waktu.

Dan, yang tidak kalah menarik adalah, shalat itu bisa menjauhkan hati ini dari berbuat keji dan munkar.
Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut [29]: 45).

Dengan demikian, jika benar-benar mendamba kebahagiaan hidup sehari-hari, jangan sekali-kali nyaman meninggalkan shalat meski hanya satu kali. Sebab, sekali ditinggal, hati manusia tidak akan pernah bebas dari gempuran setan yang mendorong hati untuk berani melakukan perbuatan-perbuatan keji dan munkar.

Kedua, membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an itu bukan sekadar bacaan, tetapi juga obat, penenang dan solusi jika benar-benar diresapi, dimaknai dan diamalkan. Misalnya kala hati terserang futur (malas) maka saat hati kita membaca dengan sebaik-baiknya ayat berikut ini;
 “(Allah-lah) yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalannya dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [QS. Al-Mulk [68]: 2).
Gambar1.2 Sibukkan Diri Dengan Membaca Al-Qur'an


Membaca ayat tersebut tentu akan mendorong hati untuk terus (meminjam istilah di lapangan hijau) on fire dalam mengisi hari demi hari, sehingga tidak sempat rasa malas, rasa kesal terlalu lama bersemayam di dalam hati. Bak penyerang di sebuah kesebelasan, selalu ingin mencetak gol, selalu ada target kebaikan yang ingin diraih dari waktu ke waktu sepanjang hari.

Oleh karena itu, menghadirkan hati kala membaca Al-Qur’an akan sangat membantu hati kita merasakan kenikmatan dan kebahagiaan luar biasa, sehingga senantiasa ada rasa rindu, rasa takjub dan rasa bersalah jika tidak membaca Al-Qur’an dengan sepenuh hati.
Bahkan, dalam beberapa kesempatan, jika memang memungkinkan meminta sahabat yang baik bacaan Qur’annya untuk kita itu akan jauh mengesankan, karena Nabi tidak jarang juga meminta Ibn Mas’ud membacakan Al-Qur’an untuk beliau.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah kepadaku Al-Qur’an.” Ibnu Mas’ud berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab, “Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku.” Maka aku pun membacakan surat an-Nisaa’, ketika sampai pada ayat [yang artinya], “Bagaimanakah jika [pada hari kiamat nanti] Kami datangkan dari setiap umat seorang saksi, dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka” (QS. an-Nisaa’: 41). Aku angkat kepalaku, atau ada seseorang dari samping yang memegangku sehingga aku pun mengangkat kepalaku, ternyata aku melihat air mata beliau mengalir.” (HR. Bukhari Muslim).

Ketiga, sedekah
Sedekah ini manfaatnya luar biasa. Mari perhatikan ayat Allah ini.
“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri, dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridoan Allah, dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedangkan kamu sedikit pun tidak akan dirugikan.” [QS Al-Baqarah [2]: 272].
Gambar1.3 Allah Melipatgandakan Pahala Orang Yang Bersedekah


Setidaknya ada beberapa manfaat langsung yang tentu akan membahagiakan hati kala diamalkan. Pertama, pahala untuk diri sendiri langsung dari Allah. Kedua, diberikan pahala yang cukup. Ketiga, kita akan mendapat keuntungan, kemenangan dan kebahabagiaan. Karena sedekah tidak akan merugikan sama sekali.

Dengan demikian, mari berlatih untuk senantiasa bersedekah. Karena sedekah tidak semata soal pahala, tetapi juga ketenangan jiwa. Sebagaimana ketika pohon apel misalnya berbuah pasti menyenangkan hati. Seperti itulah sedekah menjadi buah dari keimanan. Semakin banyak dan ikhlas dalam sedekah (buah) semakin kuat keimanan dalam hati insha Allah.

Semoga tiga amalan ini dapat kita biasakan dalam keseharian kita, sehingga kita tidak sempat menjadi pribadi yang sering murung, lemah semangat, lemas dan tidak bersemangat dalam menguatkan dan menyuburkan iman yang akan menjadi penyelamat kehidupan dunia-akhirat kita sendiri. Wallahu a’lam.*

Rep: Imam Nawawi
Editor:

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com

Wednesday, 13 December 2017

Kunci Amalah Yang Membuat Hidup Lebih Hidup



Kunci Amalah Yang Membuat Hidup Lebih Hidup


Jika hidup suka melampiaskan kemarahan dan enggan memaafkan, maka dia memastikan diri terperosok dalam ketidakbahagiaan
Gambar 1.1


MENJADI Muslim itu mudah, murah dan tentu saja berkah. Sebab semua dimensi empiris dan material yang dijalani diliputi oleh dimensi spiritual yang meneguhkan sekaligus menenangkan.
Oleh karena itu, Islam selalu menganjurkan doa dalam setiap aktivitas yang umat Islam lakukan, mulai dari bangun tidur sampai akan tidur lagi, banyak aktivitas yang harus diawali dan ditutup dengan doa. Makan, minum, tidur, berkendara, memakai baju, mandi, dan lain sebagainya.

Tetapi, mengapa masih ada sebagian dari kita yang hidupnya galau, penuh amarah dan karena itu tidak bahagia? Boleh jadi karena tidak memahami Islam atau belum benar-benar meresapi dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan konsisten.

Tetapi, amalan di dalam Islam kan banyak sekali. Benar, dan karena itu mari kita lihat tiga di antaranya yang merupakan amalan harian yang harus dilakukan oleh umat Islam.

Pertama, Shalat

Gambar 1.2

Shalat sebagai tiang agama mencakup semua dimensi kehidupan, mulai dari gerak fisik, rasa, pikir dan hati, dan yang paling menarik adalah sisi waktunya.
Orang yang Shalatnya tertib akan memiliki kedisiplinan tinggi di dalam kehidupannya. Misalnya soal disiplin waktu. Mereka yang istiqomah Shalat Shubuh apalagi tahajjud, hampir kecil peluangnya untuk terlambat dalam aktivitas kerjanya. Lebih dari itu, wajahnya berseri-seri, karena bangun di waktu yang tepat, yakni di waktu sahur atau sebelumnya.
‘The mind must be fully made up that to rise early is a duty” (Pikiran harus sepenuhnya diarahkan untuk memahami bahwa bangun lebih awal adalah tugas), demikian kata Benjamin Franklin memberikan motivasi.

Tetapi, bagi kita, bangun lebih awal sebenarnya keuntungan besar, karena bisa menghadap Allah melalui beberapa jenis Shalat. Mulai Shalat tahajjud, Shalat witir, Shalat sunnah fajar, sampai Shalat Shubuh.

Katakanlah jika kita tinggal di Jabodetabek, bangun jam 4 dini hari, maka sampai tiba waktu shubuh ada empat jenis Shalat yang dilakukan secara berurutan. Artinya, gerak fisik untuk kesehatan tubuh telah ditunaikan.

Dalam teori kesehatan “physical activity” merupakan salah satu hal penting untuk menunjang kesehatan dan tentu saja kebahagiaan seseorang.
Katherine Zeratsky mengatakan, “Aktivitas fisik tidak saja baik bagi kita, tetapi juga memberikan jalan (terbaik) untuk memanfaatkan waktu.”

Dengan bangun lebih awal, kita tidak saja mendapatkan keesempatan menghirup oksigen dengan baik, tetapi juga mendirikan Shalat yang memenuhi kriteria aktivitas fisik yang pada saat itu pula juga bermunajat kepada Allah.

Jika ini diamalkan, apakah mungkin hati seorang hamba diliputi selain dari pada ketentraman dan keyakinan kepada Allah Ta’ala? Apakah mungkin masih ada kemalasan yang ingin dilampiaskan?
Artinya, orang yang melakukannya benar-benar akan bahagia dalam hidupnya.

Kedua, memafkan

Gambar1.3

Dalam hidup, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya interaksi dengan sesama. Dan, dalam interaksi itu tentu saja ada hal-hal yang membutuhkan kebesaran jiwa.
Ketika sedang berkendara misalnya, tiba-tiba ada pengendara lain yang secara mendadak memotong jalan dan berbelok, yang kalau Allah tidak jadikan reflek diri segera melakukan pengereman, insiden tidak bisa dihindarkan. Dalam situasi seperti itu, kebanyakan orang spontan berkata kasar atau tidak patut. Tetapi, kalau bisa memaafkan maka itu lebih baik.

Dan, tentu saja masih banyak kejadian lain yang membutuhkan pemaafan dari kita. Mulai dari cemooh orang di jalanan, sikap cuek mereka dalam berlalu lintas, bahkan sampai pada tahap pasangan begitu sering memprotes kebaikan-kebaikan yang kita upayakan sekuat tenaga, hingga anak yang sepertinya tidak mau mengerti kehendak orang tua. Semua butuh pemaafan.

Ketika kita memaafkan, hal buruk apapun tidak akan mengotori hati, sehingga pikiran kita tetap positif. Tetapi begitu kita tidak memaafkan, emosi akan naik dan tentu saja reaksi dalam tubuh kita menjadi tidak produktif untuk berpikir benar.
Betapa pentingnya memaafkan ini, Allah sampai jadikan sebagai satu poin dari karakter insan bertaqwa.
 “[yaitu] orang-orang yang menafkahkan [hartanya], baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan [kesalahan] orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (134).” (QS. Ali Imran [3]: 134).

Mengapa memaafkan itu penting dan dinilai sebagai wujud ketaqwaan dalam pandangan Allah?
Alasannya jelas, karena memaafkan itu memang tidak mudah. “Forgiveness isn’t always easy.”
Dengan kata lain, orang yang hidupnya suka melampiaskan kemarahan, kekesalan dan tidak mau memaafkan, maka dia telah memastikan dirinya sendiri terperosok dalam ketidakbahagiaan.

Sebab sebuah riset membuktikan bahwa sikap memaafkan akan berdampak positif terhadap kesehatan; gejala fisik, obat yang digunakan, kualitas tidur, kelelahan, dan keluhan somatik. Jadi, memaafkan itu membahagiakan.

Ketiga, bersyukur
Gambar 1.4


Bersyukur satu sisi adalah perintah dari Allah, tetapi sisi yang lain bersyukur adalah kebutuhan hidup manusia itu sendiri.
Orang yang bersyukur akan mendapatkan banyak keuntungan. Mulai dari mengalami stres dalam tingkat terendah dalam menghadapi dinamika kehidupan sampai pada merasakan ketenangan kala malam tiba, terlebih jika diiringi dengan ibadah di malam hari.
Lebih jauh, sebuah studi yang diterbitkan dalam Personality and Individual Differences pada tahun 2012 menyebutkan bahwa bersyukur dapat menjadikan seseorang mengalami lebih sedikit sakit dan nyeri, menimbulkan rasa lebih sehat di dalam hati, terdorong untuk sadar dengan kesehatan dan tenu saja sangat besar kemungkinan berkontribusi untuk berumur panjang.
Oleh karena itu, bersyukurlah kepada Allah, kepada pasangan, kepada anak, kepada tetangga, dan tentu saja kepada orang tua kita, guru dan mereka yang banyak mengarahkan kita pada jalan kebenaran.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim [14]: 7). Wallahu a’lam.*

Disqus Shortname

sigma2

Comments system

[blogger][disqus][facebook]