Tuesday, 2 May 2017

Masalah Penting Disekitar Kita

Masalah penting  disekitar kita

          Banyak hukum islam yang belum kita keetahui.Ternyata sebagiannya sangat penting dan erat kaitannya dengan kelurusan akidah seorang muslim.Ada juga syariat islam yang diidentikkan dengan kelompok teroris .Melalui tulisan ini kita dapat bimbingan tentang bbeberapa permasalahan penting yang ada disekitar kita.Sehingga kita tidak salah persepsi terhadapa permasalahan tersebut.Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengamalkannya.

Hukum Memelihara jenggot.
Imam an-Nawawi Rahimahullah menjelaskan secara panjang lebar hukum memelihara jenggot danmembiarkannya.Ketika menjelaskan hadits tentang sepuluh fitrah yang ada pada manusia,diantaranya membiarkan jenggot,belia mengatakan,’’Telah disebutkan pada hadits sebelumnya ,bahwa membiarkan jenggot termasuk bagian dari fitrah”.\
An-Nawawi menukil ucapan Imam Al-khaththabi dan selainnya saat menjelaskan makna mebiarkan jenggot,’’maksud membiarkan jenggot adalah membiarkan jernggot tumbuh tanpa dipotong.’’Tidak diperbolehkan bagi kita untuk memotong jenggot seperti perbuatan orang-orang ajam(non muslim).Sebab,dianatara ciri khas Kisra (Raja persia ) adalah memotong jenggot dan memelihara kumis.
Setelah menyebutkan sebagian pendapat yang mengatakan bahwa memotong kelebihan jenggot jika telah sepanjang genggamantangan tidak mengapa,an-Nawawi mengatakan ,pendapat yang benar adalag haramnya memotong jenggot secara mutlak.Yang benar adalah membiarkannya panjang begitu saja,sebagaimana disebutkan dalam hadits,
وَفِّرُوا اللِّحَى
“Biarkanlah jenggot-jenggot.!” (HR.al-Bukhori dan Muslim)
Sedangkan hadits dari Amr bin syu’aib dari bapaknya dari kakeknya yang berisi bahwa N abi mengambil sebagian jenggotnya dari samping maupun dari bawah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad dha’if(lemah) sehingga tidak bisa dijadikan dalil.(Lihat Majmu’syahrul muhadzdzab lil imam an-Nawawi 1/290)

Dalam riwayat lain Rasulullah salallahualaihisalam bersabda,
خَالِفُواالْمُشْرِكِيْنَ أَحْفُواالشَّوَارِبَ
“Selisihilah orang-orang musyrik ! Perbanyakalah jenggot dan  potonglah kumis!” (HR.al –Bukhori dan Muslim)

Dalam Riwayat lain disebutkan,


جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ
“Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim no. 626)

Peringatan
Sebagian orang menilai bahwa jenggot identik dengan kelompok teroris .Padahal tidak demikian ,Jenggot merupakan bagian dari syariat islam.Fakta yang ada ,ketika kaum teroris melakukan aksi terornya tidak sedikit dari mereka yang memotong jenggotnya dan berpakaian layaknya preman.Setelah ditangkap petugas keamanan barulah jenggot dipelihara lagi ,memakai jubah dan sorban.Sehingga jenggot atau atribut lainnya tidaklah identik dengan kaum teroris.

Bersambung...Selanjutnya akan diuraikan juga Hukum musik,Musik dimata salaf,Perdukunan dan Sihir.

Sumber: Buletin ilmu.




Monday, 24 April 2017

Mulia Dengan Islam

Mulia Dengan Islam

Islam merupakan agama terkahir dari seluruh agama yang pernah Allah turunkan ke muka bumi. Melengkapai agama samawi yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muahammad salallahualaihiwassalam. Sehingga Islam adalah satu-satunya agama yang diterima Allah dan diridhoi Allah.
Sesungguhnya agama(yang diridhai) disisi Allah hanyalah islam.Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Alkitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka,karena kedengkian(yang ada diantara mereka.Barangsiapa yang kafir terhadap ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat Hisabnya.’’(QS.Ali-Imran :19)
Agama Islam diturunkan di tanah Arab saat Kebobrokan dan kehancuran moral tengah melanda bangsa Arab,membawa masyarakatnya dari zaman keterpurukan menjadi sebuah bangsa yang berperadaban.Tanpa memilih dan memilah si kaya dan si miskin,rakyat jelata,atau para raja berkulit hitam maupun berkulit putih.
Meskipun diturnkan di Tanah Arab,Arab bukanlah patokan Standard kebenaran Islam. Allah menjadikan Al-Qur’an dan hadits sebagai pedoman danpanduan hidup bagi seluruh manusia. Agama islam tidak pernah membedakan ras suku dan bangsa.Orang yang paling mulia disisi Islam adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah.
“...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang orang yang paling bertakwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Mengetahui lagi maha mengenal.’’(QS.al-Hujurat:13)

          Agama Islam cocok dan bisa diterima disetiap tempat dan waktu.Namun ,sebelumnya ada dua hal yang harus diperhatikan oleh ummat islam. Pertama,dalam islam ada perkara-perkara yang bisa berubah seiring waktu dan perub ahan dinamika kehidupan manusia,perkara ini terletak pada pada perkara yang bersifat fikih dan pada perkara yang para ulama berbeda pendapat(furu’iyah),adaqpula perkara yang bersifat baku atau ushuli(dasar-dasar)yang tidak mengalami perubahan sampai kapanpun,perkara ini terletak pada perkara aqidah yang berhubungan dengan keyakinan atau keimanan.
Perbedaan yang terjadi pada perkara-perkara fikih adalah hal yang diperbolehkan dalam islam dan ini merupakan rahmat Allah bagi manusia.Sebagaimana firman Allah:
“Hai,manusia,sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal...” (QS-al-Hujurat:13)
Perbedaan yang kedua adalah perbedaan dalam masalah aqidah dan keyakinan dasar.Perkara ini tidak diperbolehkan dalam islam.Berbeda dalam perkara ini berdampak buruk bagi keimanannya. Allah berfirman:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali(Agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu(masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah ,orang-orang yang bersaudar...’’(QS.al-imran :103)
Inti kekuatan kaum muslimin ada pada persatuan dan  kesatuan mereka yang dibangun atas landasan aqidah yang benar dan sesuai Al-Qur’an dan sunnah. Selama ummat Islam bersatu dan berpedoman kepada Al-Quran dan sunnah, Agama Islam tidak akan terkalahkan oleh bangsa dan peradaban manapun.Tetapi ,ketika kaum muslimin berpecah belah dan cenderung kepada dunia maka Allah akan menghinakan kaum Muslimin di hadapan musuh-musuhnya.

Bersambung.....


Sumber: Ustadz Abu Umar Abdillah

Monday, 17 April 2017

BERKUMPUL DAN BERPISAH ,MEMBERIKAN WARNA ATAU TERWARNAI

            BERKUMPUL DAN BERPISAH ,MEMBERIKAN WARNA ATAU TERWARNAI

Abu Hurairah ,menuturukan bahwa Rasulullah bersabda :’’Ruh-ruh itu adalah pasukan yang berkumpul (berkelompok ).(Oleh karena itu),Jika mereka saling mengenal maka akan bersatu , dan jika saling tidak mengenal makaakan berbeda (Berpisah). (HR.Bukhari dan Muslim)
Manusia terdiri dari jasad dan Ruh. Allah menciptakan ruh dan meniupkan kedalam jasad manusia sehingga ia berdetak dan bergerak. Sebagaimana barang tambang dikelompokan berdasarkan jenisnya,demikian juga manusia.Ia akan dikumpulkan berdasarkan jenisnya.

BERSATU KARENA IMAN
Ketika menceritakan tentang Ashabul Kahfi,Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bagimana bertemunya para pemuda yang tidak saling mengenal dan berkumpul dalam satu tempat,sepakat untuk menghindar dari fitnah dan menjaga keimanan.
Ketika mereka melihat perbuatan kaumnya yang menyembah berhala dan menyembelih hewan untuk berhala maka mereke menyingkir dari masing-masing kaumnya.Awalnya ada satu pemuda yang duduk dibawah pohon,lalu datang pemuda lain yang juga duduk ditempat tersebut.Kemudian datang lagi yang lain ikut bergabung berteduh dibawah pohon.Mereka tidak saling mengenal satu sama lain.Mereka diam dan menyembunyikan perasaan mereka masing-masing.Mereka takut bila salah satu dari mereka akan menyampaikannya pada penguasa.Hingga salah satu dari mereka membuka suara,’’Saudara-saudara,demi Allah ,pasti ada sesuatu yang membuat kalian keluar dan mengasingkan diri dari kaum kalian .’’Maka masing-masing mereka akhirnya berbicara dengan jawaban yang hampir sama,yaitu,’’Aku keluar karena melihat kebathilan yang dilakukan oleh kaumku.Sungguh haya Allah ayng berhak untuk diibadahi dan tidak boleh dipersekutukan .Dialah Allah yang mencipttakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya.’’
Jadilah mereka teman dekat.Mereka sepakat untuk mengambil suatu tempat untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.Kaumnya mengetahui dan melaporkannya kepada penguasa.Mereka diintrogasi atas perbuatan mereka.Para pemuda ini menjawab,menyampaikan al-haq dan mendakwahkannya kepada penguasa.
‘’Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi ;sekali-kali kami tidak menyeru selain Dia,sesungguhnya kami kalau9menyeru dan beribadah kepada selain Allah)berarti kami telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran’’
(QS.AL KAHFI:14)

Penguasa tersebut enggan untuk menerima dakwah mereka ,bahkan mengancam,sehingga para pemuda ini lari dan masuk kedalam gua. Demikianlah fitrah manusia,ia akan berkumpul ,disatukan oleh satu kesamaan.
Tidak mungkin muslim menjadikan orang kafir sebagai teman dekat,tidak mungkin menjadikan pemimpin dari orang kafir,tidak mungkin hidup pada masyarakat kafir yang menentang al-haq.Yang ada adalah muslim lari dari fitnah dan mencari pemimpin dan wilayah yang aman untuk beribadah dan mentauhidkan Allah.


BAIK BERSAMA YANG BAIK ,BURUK BERSAMA YANG BURUK


Allah ta’ala berfirman :
‘’wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji,dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji(pula)dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baikn untuk wania-wanita yang baik(pula).’’ (QS. An Nuur:26)

Menjadi lebih yakin bahwa Rasulullah adalah makhluk yang mulia maka isteri-isterinya pun semuanya mulia.Orang0orang yang mengimani danmembenarkannya pun tergolong manusia yang mulia.Siapa saja yang mengikuti sahabat dengan baik,maka mereka bisa termasuk kedalam golongan orang-orang yang mulia.Adapun orang yang menentang Rasul,menghina,memusuhi,melawan dan tidak bertaubat hingga kematian mendatanginya ,maka merka termasuk orang yang hina.Begitupula manusia hari ini yang mengikuti mereka maka mereka berkumpul dalam kumpulan ruh yang hina.


TIDAK BISA BERSATU YANG BAIK DENGAN YANG BURUK.

Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri,orang yang baik tidak akan menerima perkataan atau perbuatan yang buruk.Tidak akanmengambil sahabat dan teman yang buruk.Tidak akan mengambil isteri yang buruk.Begitupula sebaliknya ,orang yang buruk tidak akan menerima kebaikan dan berpasangan dengan orang-orang yang baik.
Perkataan Ibnu Mas’ud’’jika seorang mukimin masuk ke suatu majelis,yanmg dimana pada majelis itu terdapat seratus orang munafiq dan satu orang mukmin,maka ia pasti datang dan duduk pada satu orang mukmin tadi.Dan kalau orang munafiq masuk pada suatu majelis,dimana pada maejlis itu terdapat seratus orang mukmin dan satu orang munafiq ,maka ia pasti datang dan duduk pada seorang munafiq tadi.’’(Dikeluarkan oleh Al Askari dalam al amtsal dari jalan ibrahim dari Abil Ahwash)

Tentukan pilihan,apakah anda ingin bersahabat dengan orang baik sehingga mencontoh kebaikan dan menghilangkan keburukan yang ada pada diri,sehingga bisa memberikan warna(menunjuki pada jalan yang benar kepada yang lain) atau bersahabat dengan orang buruk sehingga hilang kebaikan yang ada pada diri dan terwarnai dengan keburukan-keburukan mereka


Sumber: Abu Umar Abdillah

Sunday, 16 April 2017

ILMU LEBIH MULIA DARI HARTA BENDA

ILMU LEBIH MULIA DARI HARTA BENDA

Pada suatu ketika imam bukhari bepergian dengan menaiki kapal bersama para manusia. Adapun  ia membawa bekal 1000 dinar ,jumlah yang sangat besar pada msasa itu. Kemuadian ia didatangi salah satu penumpang yang merasa senang  dengan beliau sehingga duduk dan ngobrol bersama terus menerus.Imam bukhori pun menaruh simpati dan senang dengan orang itu ,sampai suatu ketika Imam bukhari bercerita kepadanya bahawa dikantongnya ada 1000 dinar.
Suatu hari orang tadi bangun tidur lalu menangis  meronta-ronta,sambil menyobek bajunyan dan menampar wajahnya .Orang disekitarnya merasa heran dan mempertanyakan kenapa dia berbuat demikian lalau orang tersebut berkata bahwa dia membawa kantong yang isinya 1000 dinar dan hilang.Kemudian orang –orang mulai mencari dan mengecek satu demi satu penumpang kapal siapa tahu ada yang mengambilnya.Mengetahui hal itu lantas Imam Bukhori memlemparkan kantongnya yang berisi 1000 dinar kelaut karena takut terfitnah.Dengan demikian orang-orang tidak akan menuduhnnya mencuri .Orang-orang pun selesai mencari dan tidak didapati apa yang mereka cari ,lalu balik kepada pemuda tadi sambil marah-marah karena ia telah berdusta.
Setelah perjalanan usai dan manusia mulai turun dari kapal,orang itu pergi menemui imam bukhori kemudian bertanya ,’’apa yang telah kamu lakukan dengan kantong 1000 dinarmu?’’imam bukhori menjawab,’’Aku lemparkan dilaut.’’orang tersebut heran dan kembali bertanya,’’Bagaimana engkau bisa sabar dengan kehilangan 1000 dinarmu?’’ lalau Imam Bukhori membalas,’’Aku telah menghabiskan hidupku untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi,dan seluruh jagad raya telah mengetahui kejujuran dan ketsiqahanku.Maka tidak mungkin aku membiarkan orang menuduhku mencuri,meski harta sebagai jaminannya.Dan apa mungkin permata berharga(keadilan dan ketsiqahan beliau ) yang aku dapatkan selama hidup aku buang begitu saja hanya karena beberapa dinar.”



(Sumber: Kitab Sirah al-bukhori, Imam Abdus Salam al-Mubarakfuri)

AREA ABU ABU

AREA ABU ABU
Dari zaman ke zaman , selalu saja ada kekuatan saling berhdapan, antara yang haq dan bathil . Dan disana ada wilayah abu-abu yang lebih banyak pengikutnya.Yakni wilayah umat islam yang belum memiliki ketegasan sikap ,kepada siapa mereka mesti berpihak. Dan diwilayah abu-abu itu ada kaum munafik yang bergerak. Mereka ingin menarik penghuni wilayah abu-abu itu untuk dibawa ke area hitam dan menjauh dari area putih.

                Iming-iming keuntungan dunia, meski hanya omdo (omong doang) sudah cukup menarik perhatian orang yang lemah iman. Perhiasan dunia meski hanya sebatas janji sudah cukup menggeser posisi orang yang cinta dunia menuju area hitam. Apalagi ditambah secuil sugesti berupa bantuan kontan yang langsung bisa dirasakan sudah cukup membuat lupa daratan bagi orang-orang yang  belum memiliki pijakan kuat untuk bertahan bersama pengusung kebenaran.
                Pada akhirnya masing-masing kita perlu mengukur tingkat keimanan ,untuk dihadapakan pada tingkat gangguan ataupun rayuan. Adakah pijakan kita benar-benar telah berada di area putih ,ataukah di area abu-abu yang tengah ditarik menyeberang dan membelot dari kebeneran dan pengusungnya?
                Andaikan saja kita hidup dizaman Musa alaihis salam dan Firaun , yakinlah kita akan bergabung bersama Musa alaihissalam ? Sementara yang ppunya kekuasaan ketika itu adalah Firaun. Yang membangun piramida begitu megahnya juga dia. Yang punya sejuta tentara (menurut sebagian mufasir seperti dinukil oleh imam ath-Tthabrani) adalah firaun.Dengan bahasa kekinian ,Firaun lebih menjanjikan sosial jaminan kesejahteraan dan finansial.Yakin akan bergabung dengan kafilah Musa alaihissalam? Saat itu pengikutnya hanya sedikit  tidak punya kuasa dan bertatus ‘buruan’.
                Andaikan kita hidup dizaman Ibrahim alaihissalam yang berhadapan dengan Namrudz,Dikubu manakah anda bergabung?
                Andaikan  sajak kita hidup dizaman Nuh alaihissalam ,akankah kita turut menaiki perahunya,a atukah mengikuti rombongan kebanyakan yang terdapat disana orang-orang yang memiliki kedudukan dan kekayaan.
                Adapun dimasa mendatang ,andaikan Dajjal muncul dizaman kita, yakinkah Anda berada dikubu yang berseberangan dengan dajjal? Padahal dajjal mampu menjadikan tanah gersang secara tiba-tiba (atad ijin Allah) bagi yang tidak mau mengimani dirinya.Padahal ia juga bisa menjadikan tanah gersang menjadi subur seketika (atas ijin Allah) bagi siapa yang tunduk beriman dan mengabdi kepadanya?
                Selagi seseorang  masih menjadikan dunia dan perhiasannya sebagai ukuran kemulian  dan kebahagiaan,maka posisinya sangat rawan bergeser ke kubu kebathilan, semoga Allah kokohkan keimanan kita dan kaum muslimin disetiap zaman dan tempat, Amiin.


Sumber : Ustadz  Abu Umar Abdillah

Saturday, 1 April 2017

KEUTAMAAN ISLAM DAN KEINDAHANNYA

KEUTAMAAN ISLAM DAN KEINDAHANNYA[1]
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Islam adalah agama yang memiliki banyak keutamaan yang agung dan membuahkan hal-hal yang terpuji dan hasil-hasil yang mulia. Di antara keutamaan dan keindahan Islam adalah:
1. Islam menghapus seluruh dosa dan kesalahan bagi orang kafir yang masuk Islam.
Dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla :
قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُوا إِن يَنتَهُوا يُغْفَرْ لَهُم مَّا قَدْ سَلَفَ وَإِن يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ
“Katakanlah kepada orang-orang kafir itu, (Abu Sufyan dan kawan-kawannya) ‘Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu; dan jika mereka kembali lagi (memerangi Nabi), sungguh akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang terdahulu (dibinasakan).” [Al-Anfaal: 38]
Shahabat ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu yang menceritakan kisahnya ketika masuk Islam, beliau Radhiyallahu anhu berkata:
…فَلَمَّا جَعَلَ اللهُ اْلإِسْلاَمَ فِى قَلْبِي أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: ابْسُطْ يَمِيْنَكَ فَـْلأُبَايِعْكَ. فَبَسَطَ يَمِيْنَهُ. قَالَ فَقَبَضْتُ يَدِى قَالَ ((مَا لَكَ يَا عَمْرُو ؟)) قَالَ قُلْتُ: أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِطَ قَالَ ((تَشْتَرِطُ بِمَاذَا ؟)) قُلْتُ: أَنْ يُغْفَرَلِى. قَالَ ((أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ اْلإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهَا؟ وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ ؟))
“… Ketika Allah menjadikan Islam dalam hatiku, aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku berkata, ‘Bentangkanlah tanganmu, aku akan berbai’at kepadamu.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membentangkan tangan kanannya. Dia (‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu) berkata, ‘Maka aku tahan tanganku (tidak menjabat tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Ada apa wahai ‘Amr?’ Dia berkata, ‘Aku ingin meminta syarat!’ Maka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah syaratmu?’ Maka aku berkata, ‘Agar aku diampuni.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah engkau belum tahu bahwa sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya, hijrah itu menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan haji itu menghapus dosa-dosa sebelumnya?’” [2]
2. Apabila seseorang masuk Islam kemudian baik keIslamannya, maka ia tidak disiksa atas perbuatannya pada waktu dia masih kafir, bahkan Allah Azza wa Jalla akan melipatgandakan pahala amal-amal kebaikan yang pernah dilakukannya. Dalam sebuah hadits dinyatakan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلاَمَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ. وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِمِثْلِهَا حَتَّى يَلْقَى اللهَ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika baik keIslaman seseorang di antara kalian, maka setiap kebaikan yang dilakukannya akan ditulis sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Adapun keburukan yang dilakukannya akan ditulis satu kali sampai ia bertemu Allah.” [3]
3. Islam tetap menghimpun amal kebaikan yang pernah dilakukan seseorang baik ketika masih kafir maupun ketika sudah Islam.
عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثَُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ أَو صِلَةِ رَحِمٍ ، فَهَلْ فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ.
Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.” [4]
4. Islam sebagai sebab terhindarnya seseorang dari siksa Neraka.
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ: ((أَسْلِمْ)) فَنَظَرَ إِلَى أَبِيْهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُوْلُ: ((الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ))
Dari Anas Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Ada seorang anak Yahudi yang selalu membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi was allam, kemudian ia sakit. Maka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menengoknya, lalu duduk di dekat kepalanya, seraya mengatakan, ‘Masuk Islam-lah!’ Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang berada di sampingnya, maka ayahnya berkata, ‘Taatilah Abul Qasim (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).’ Maka anak itu akhirnya masuk Islam. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar seraya mengatakan, ‘Segala puji hanya milik Allah yang telah menyelamatkannya dari siksa Neraka.’” [5]
Dalam hadits lain yang berasal dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
…إِنَّهُ لاَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ اللهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّيْنَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ.
“…Sesungguhnya tidak akan masuk Surga melainkan jiwa muslim dan sesungguhnya Allah menolong agama ini dengan orang-orang fajir.” [6]
5. Kemenangan, kesuksesan dan kemuliaan terdapat dalam Islam.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْن الْعَاصِ c أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ.
Dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyalahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam, dan diberi rizki yang cukup dan Allah memberikan sifat qana’ah (merasa cukup) atas rizki yang ia terima.” [7]
‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata, “Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan oleh Allah Azza wa Jalla dengan Islam, maka bila kami mencari kemuliaan dengan selain cara-cara Islam maka Allah akan menghinakan kami.” [8]
6. Kebaikan seluruhnya terdapat dalam Islam. Tidak ada kebaikan baik di kalangan orang Arab maupun non Arab, melainkan dengan Islam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّمَا أَهْلِ بَيْتٍ مِنَ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ أَرَادَ اللهُ بِهِمْ خَيْرًا، أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ اْلإِسْلاَمَ، ثُمَّ تَقَعُ الْفِتَنُ كَأَنَّهَا الظُّلَلُ.
“Setiap penghuni rumah baik dari kalangan orang Arab atau orang Ajam (non Arab), jika Allah menghendaki kepada mereka kebaikan, maka Allah berikan hidayah kepada mereka untuk masuk ke dalam Islam, kemudian akan terjadi fitnah-fitnah seolah-olah seperti naungan awan.” [9]
7. Islam membuahkan berbagai macam kebaikan dan keberkahan di dunia dan akhirat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً، يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي اْلآخِرَةِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى اْلآخِرَةِ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا.
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menzhalimi satu kebaikan pun dari seorang mukmin, diberi dengannya di dunia dan dibalas dengannya di akhirat. Adapun orang kafir diberi makan dengan kebaikan yang dilakukannya karena Allah di dunia sehingga jika tiba akhirat, kebaikannya tersebut tidak akan dibalas.” [10]
8. Suatu amal shalih yang sedikit dapat menjadi amal shalih yang banyak dengan sebab Islam yang shahih, yaitu tauhid dan ikhlas. Beramal sedikit saja namun diberikan ganjaran dengan pahala yang melimpah.
Dalam sebuah hadits dinyatakan:
عَنِ الْبَرَاءَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: أَتَى النَّبِيَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مُقَنَّعٌ بِالْحَدِيْدِ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أُقَاتِلُ أَوْ أُسْلِمُ؟ قَالَ أَسْلِمْ ثُمَّ قَاتِلْ، فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَاتَلَ فَقُتِلَ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَمِلَ قَلِيْلاً وَأُجِرَ كَثِيْرًا.
Dari al-Bara’ Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Seorang laki-laki yang memakai pakaian besi mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku boleh ikut perang ataukah aku masuk Islam terlebih dahulu?’ Maka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Masuk Islamlah terlebih dahulu, baru kemudian ikut berperang.’ Maka, laki-laki tersebut masuk Islam lalu ikut berperang dan akhirnya terbunuh (dalam peperangan). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: ‘Laki-laki tersebut beramal sedikit namun diganjar sangat banyak.’” [11]
9. Islam membuahkan cahaya bagi penganutnya di dunia dan akhirat.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka, celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [Az-Zumar: 22]
10. Islam menyuruh kepada setiap kebaikan dan melarang dari setiap keburukan. Tiada satu pun kebaikan, baik yang kecil maupun yang besar, melainkan Islam telah membimbingnya dan menunjukinya, sebaliknya tidak ada satu pun keburukan melainkan Islam telah memperingatkan dan melarangnya.
11. Islam menjaga agama. Islam mengharamkan seseorang murtad (keluar dari agama Islam), bahkan orang yang murtad boleh dibunuh.[12]
12. Islam menjaga jiwa. Allah Azza wa Jalla mengharamkan pembunuhan dan penumpahan darah umat Islam. Islam memelihara jiwa, oleh karena itu Islam mengharamkan pembunuhan secara tidak haq (benar), dan hukuman bagi orang yang membunuh jiwa seseorang secara tidak benar adalah hukuman mati.
Maka dari itu jarang terjadi pembunuhan di negeri yang menerapkan syari’at Islam. Karena apabila seseorang mengetahui bahwa bila ia membunuh seseorang akan dibunuh pula maka ia tidak akan melakukan pembunuhan, karena hal itu masyarakat hidup dengan penuh rasa aman dari kejahatan pembunuhan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan dalam qishash itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertaqwa.” [Al-Baqarah: 179]
13. Islam menjaga akal. Oleh karena itu Islam mengharamkan setiap yang memabukkan seperti khamr (minuman keras), narkoba dan rokok.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr (minuman keras), berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung.” [Al-Maa-idah: 90]
Khamr adalah apa-apa yang menutup akal, baik bentuknya basah maupun kering, yang dimakan atau diminum dan setiap yang memabukkan adalah sumber dari segala kejelekan, sarangnya dosa dan pintu setiap kejelekan. Barang-siapa yang tidak menjauhkannya, maka ia telah durhaka kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia berhak mendapatkan hukuman, siksa, adzab dan diancam dengan masuk Neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm diutus untuk menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan yang jelek-jelek.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
“…Dan yang menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan yang mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…” [Al-A’raaf: 157]
14. Islam menjaga harta. Oleh karena itu Islam mengajarkan amanah (kejujuran) dan menghargai orang-orang yang amanah, bahkan menjanjikan kehidupan bahagia dan Surga kepada mereka. Islam melarang menipu, korupsi dan mencuri serta mengancam pelakunya dengan hukuman. Islam mensyari’atkan had pencurian, yaitu potong tangan pencuri agar seseorang tidak memberanikan diri mencuri harta orang lain. Dan apabila ia tidak merasa takut akan hukuman di akhirat, maka ia akan jera karena dipotong tangannya. Maka dari itu, masyarakat yang hidup di suatu negeri yang menerapkan syari’at Islam merasa aman terhadap harta kekayaan mereka, bahkan jikalau potong tangan dilaksanakan maka sangat jarang sekali adanya pencuri. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.” [Al-Maa-idah: 38]
15. Islam menjaga nasab (keturunan). Allah Azza wa Jalla mengharamkan zina dan segala jalan yang membawa kepada zina. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [Al-Israa’: 32]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah masing-masing seorang dari keduanya seratus kali dera dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman.” [An-Nuur: 2]
16. Islam menjaga kehormatan. Allah Azza wa Jalla mengharamkan menuduh orang baik-baik sebagai pezina atau dengan tuduhan-tuduhan lainnya yang merusak kehormatannya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan akhirat dan bagi mereka adzab yang besar. Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” [An-Nuur : 23-24]
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” [Al-Ahzaab: 58]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
…فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا، فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا، لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ…
“… Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormatan kalian, haram atas kalian seperti terlarangnya hari ini, bulan ini dan negeri ini, hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir…” [13]
Islam memerintah kepada setiap kebaikan dan melarang dari setiap keburukan. Setiap perintah agama Islam pasti mengandung manfaat dan kebaikan, dan sebaliknya setiap larangan agama Islam pasti mengandung kerugian dan kejelekan. Oleh karena itu setiap perintah dan larangan Islam termasuk di antara keindahannya.
[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 3]
_______
Footnote
[1]. Pembahasan ini diambil dari kitab Nurul Islam wa Zhulumatil Kufri oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Wahf al-Qahthani, dan ath-Thariiq ilal Islaam oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.
[2]. HR. Muslim: Kitabul Iman (no. 121) dari ‘Amr bin al- ‘Ash Radhiyallahu anhu.
[3]. HR. Muslim dalam Kitabul Iman (no. 129) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[4]. HR. Al-Bukhari, Kitab Zakat (no. 1436, 2220, 2538, 5992) dan Muslim dalam Kitabul Iman (no. 123), dari Shahabat Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu.
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 1356, 5657) dari Shahabat Anas Radhiyallahu anhu.
[6]. HR. Al-Bukhari, Kitab Jihad (no. 3062) dan Muslim (no. 111), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[7]. HR. Muslim dalam Kitab Zakat (no. 1054) dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu
[8]. Riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/62), ia berkata shahih dan disetujui oleh adz-Dzahabi dari Thariq bin Syihab rahimahullah
[9]. HR. Ahmad (III/477), al-Hakim (I/34) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah (no. 51) dari Shahabat Kurz bin ‘Alqamah al-Khuza’iy Radhiyallahu anhu.
[10]. HR. Muslim (no. 2808 (56)), dari Shahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.
[11]. HR. Al-Bukhari dalam Kitab Jihad (no. 2808) dan Muslim dalam Kitab ‘Imarah (no. 1900), lafazh hadits ini milik al-Bukhari, dari Shahabat Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu anhu.
[12]. Yang melaksanakan perkara ini adalah ulil amri (penguasa).
[13]. HR. Al-Bukhari (no. 67; 105; 1741) dan Muslim (no. 1679 (30)), dari Shahabat Abu Bakrah Radhiyallahu anhu.

Thursday, 16 March 2017

Tafsir Surah ar-Rahman Ayat 1 – 18

Pengenalan:
Ini adalah salah satu surah yang popular. Ianya adalah surah Makkiah – diturunkan di Mekah. Ada juga yang mengatakan ianya adalah surah Madinah. Tapi kalau dilihat dari subjek yang disampaikan dalam surah ini, ianya lebih sesuai sebagai Surah Makkiah. Diturunkan di hujung-hujung waktu Makkah. Surah ini selalu dibaca oleh imam-imam di masjid dan surau. Surah ini mengingatkan kita tentang nikmat-nikmat yang Allah telah berikan kepada kita. Jadi, elok kalau baca surah ini apabila kita baru dapat nikmat dari Allah.
Surah ini ditujukan kepada semua manusia, bukan kepada orang Islam sahaja. Macam press release kepada semua orang. Oleh itu, sebagai orang Islam, ianya adalah tugas kita untuk menyampaikannya kepada orang kafir yang tak baca Quran. Atau orang Islam, tapi tak baca Quran.
Surah ini diturunkan setelah berlalu sekian lama Nabi Muhammad menyampaikan dakwahnya. Bertahun-tahun Nabi dah dakwah kepada umatnya, bangsa Arab. Ada ayat yang diulang-ulang dalam surah ini. Kenapa ayat itu diulang-ulang? Pertama, ini untuk menekankan sesuatu perkara. Banyak cara penekanan digunakan dalam Quran untuk menekankan sesuatu dan salah satunya dengan mengulang-ulang ayat. Keduanya, kerana mereka degil sangat, dah lama dakwah tak dengar juga, maka kena ulang-ulang berkali-kali.
Surah ini juga menunjukkan cara penyampaian Quran yang efektif. Penyampaian yang efektif kena ada tiga elemen:
1. Isikandung. Hendaklah mempunyai mesej yang bermakna. Apabila mesej yang hendak disampaikan penting, pendengar akan mendengar dengan teliti. Kalau kita hendak menyampaikan maklumat yang tidak penting, tentulah pendengar akan rasa kita buang masa mereka dan mereka pun tak mahu nak dengar. Ayat-ayat dalam Quran tentunya mempunyai mesej yang amat penting.
2. Cara penyampaian. Kalau kita ada isikandung yang bagus, tapi cara kita menyampaikannya salah atau tidak tepat, ianya tidak efektif. Kadang-kadang kalau kita silap cakap, orang lagi marah dengan kita. Oleh itu, bahasa yang digunakan oleh Quran adalah amat tepat sekali. Indah sekali bahasa yang digunakan. Kadang-kadang Quran menegur dengan kiasan sahaja.
3. Penyampaian itu hendaklah sesuai dengan penerima. Kita mengubah cara percakapan kita mengikut pendengar kita. Tidak sama kalau kita bercakap dengan seorang kanak-kanak dan orang dewasa. Lain cara bercakap dengan orang yang pandai dan orang yang tidak tahu. Walaupun mesej yang hendak disampaikan adalah sama sahaja, tapi cara penyampaian berlainan. Quran menyampaikan mesej yang sama tapi penerima berbeza-beza. Ada yang mahu beriman, ada yang tidak mahu beriman. Oleh itu, kita boleh lihat bagaimana ada perbezaan apabila kita lihat surah Makkiah dan surah yang diturunkan di Madinah. Cara penyampaian tidak sama. Semasa di Mekah, banyak yang menentang agama Islam. Semasa surah Rahman ini diturunkan, ianya ditujukan kepada orang-orang Mekah yang tidak mahu menerima Islam dan mereka menentang Islam.
Mereka tidak suka dengan perkembangan Islam yang semakin meningkat. Berbagai cara mereka lakukan untuk menghalang masyarakat dari masuk Islam, tapi tidak berjaya. Semakin hari semakin ramai masyarakat Arab masuk Islam. Semakin banyak mereka menghalang, semakin ramai yang lembut hati untuk masuk Islam. Jadi, mereka mula minta kepada Nabi macam-macam benda mengarut seperti meminta Nabi turunkan malaikat, mereka minta mukjizat yang macam-macam dan sebagainya. Mereka juga minta orang mati dihidupkan. Kononnya, mereka nak tengok dengan mata mereka sendiri baru mereka nak beriman. Tapi Quran tidak melayan permintaan mereka. Sepatutnya ayat-ayat Quran itu sudah cukup untuk menunjukkan kebenaran Islam itu. Lihatlah bagaimana dalam Quran telah diceritakan bagaimana Allah telah berkali-kali menunjukkan mukjizat kepada umat Nabi-nabi dahulu. Unta Nabi Saleh, Nabi Isa yang bercakap dari bayi lagi, Bani Israil yang melepasi laut yang dibelahkan, tapi adakah mereka beriman? Tidak juga mereka beriman. Jadi, buat apa nak tunjuk lagi perkara-perkara yang boleh dilihat dengan mata?
Kali terakhir mukjizat yang boleh dilihat dengan mata adalah semasa umat Nabi Isa meminta makanan dari langit. Ini adalah kerana pengikutnya nak juga tengok makanan diturunkan dari langit. Inilah gambar ‘The Last Supper’ yang kita selalu tengok yang dilukis oleh Leonardo da Vinci itu. Setelah mereka meminta makanan dari langit, Allah berfirman yang Dia akan menurunkan makanan itu. Allah boleh sahaja buat apa yang Dia hendak dan apa yang manusia minta. Maka, Allah kata, Dia boleh bagi apa yang mereka minta itu. Tapi selepas itu, kalau ada yang tidak beriman juga, Allah akan mengazab mereka dengan azab yang paling teruk. Kerana kalau Allah dah tunjuk seperti diminta, tapi masih lagi tidak beriman, tentulah lagi teruk dari orang yang tidak melihat dengan mata sendiri. Allah marah sangat sampai Allah katakan yang Allah akan berikan azab yang tidak pernah diberikan kepada orang lain. Kerana itulah walaupun umat Arab meminta ditunjukkan mukjizat yang mereka boleh lihat dengan mata mereka, Allah tidak turunkan.
Kalau kita berurusan dengan orang yang degil, kita tidak boleh sekali sahaja nasihat mereka. Macam juga kalau kita bercakap dengan anak kita. Berkali-kali kena cakap, itu pun belum tentu mereka dengar lagi. Dah berkali cakap pun tapi masih mereka tak dengar. Begitu juga dengan kafir Mekah yang masih lagi berdegil tidak mahu beriman dengan ayat-ayat Quran. Itulah sebabnya ada ayat yang berulang-ulang dalam Surah ar-Rahman ini. Ada satu ayat yang berulang-ulang sampai 31 kali dalam surah ini.
Allah memberitahu bahawa Dia juga adalah ‘pengajar’. Mengajar bukanlah satu perbuatan yang mudah. Tidak sama dengan hanya bercakap sahaja. Bercakap sahaja memang senang. Sebab itu kita tengok dalam dunia, ramai yang pandai cakap sahaja. Tapi, apabila kena mengajar, amat sukar. Mengajar itu adalah susah kerana kita pun tahu bahawa manusia susah nak faham pembelajaran yang disampaikan. Jadi, sebelum kita mengajar, seseorang guru selalunya akan bersedia untuk mengajar. Malam sebelumnya dia telah siapkan point-point yang dia hendak sampaikan, dia berlatih macam mana nak sampaikan kepada anak murid dia, dia bayangkan suasana kelas macam mana, dan sebagainya. Kalau anda seorang guru, tentu anda lebih faham lagi. Tapi, kadang-kadang selepas kita buat persediaan pun, masih ada lagi yang tidak faham. Maka, kita akan ubah cara pengajaran kita. Kita cuba untuk mudahkan. Kita akan pecahkan pembelajaran satu persatu.
Kadang-kadang ada yang faham tapi seorang dua tak faham lagi. Maka, kita akan beri tumpuan kepadanya sahaja. Kalau dia masih tak faham lagi, kita akan ajak dia datang jumpa kita selepas kelas dan kita akan ajar dia seorang sahaja. Tapi ada juga yang tak faham. Dalam keadaan macam itu, kesabaran guru itu diuji berkali-kali. Sudah berkali-kali diberi pengajaran dan macam-macam cara telah diberikan. Orang lain dah faham, tapi dia seorang tak faham-faham lagi. Apakah yang disalahkan dalam hal ini? Adakah kurikulum, guru atau pelajar itu? Tentulah tidak ada yang bermasalah, kecuali pelajar itu sendiri.
Mari kita lihat surah Rahman ini dan bandingkan dengan contoh pelajar yang kita berikan di atas. Allah telah memberi pengajaran yang terbaik sekali iaitu Quran. Tidak ada yang pengajaran yang lebih baik dari Quran. Allah adalah guru yang sebenarnya, tapi Allah lantik Nabi Muhammad untuk menyampaikan kurikulum ini – maka, guru yang sebenar adalah Allah – tentulah itu sudah guru yang paling baik sekali. Jadi, tidak ada sebab sebenarnya untuk manusia tidak faham lagi kerana mesej sudah hebat, guru pun hebat juga.
Ramai masyarakat Mekah tidak mahu menerima dakwah Nabi Muhammad. Baginda pun risau apabila manusia tidak menerima dakwahnya – baginda menyalahkan dirinya apabila manusia tidak mahu beriman. Sebab Nabi seorang yang bertanggungjawab. Baginda takut kalau-kalau baginda yang tidak pandai mengajar. Tapi Allah kata tidak ada salah pada baginda. Oleh itu, tentu yang ada masalah adalah penerima ajaran itu atau pelajar itu sendiri. Sudah bertahun-tahun baginda berdakwah kepada mereka, dan mesej yang disampaikan boleh dikatakan sama sahaja – tapi berkali-kali disampaikan dengan berbagai-bagai cara. Senang sahaja untuk difahami apa yang hendak disampaikan – bukan memerlukan seseorang yang ada PHD baru faham pun. Yang kata Quran ini susah adalah kerana mereka tak belajar sahaja. Atau mereka telah diberitahu oleh guru-guru yang sesat bahawa Quran itu susah, jadi tak payah cuba nak faham. Hasilnya, manusia jahil dengan Quran. Tidak, Quran itu tidak begitu. Banyak ayat Quran yang menyatakan bahawa ‘Quran itu dimudahkan’.
Jadi, tidak boleh dijadikan alasan yang ianya susah untuk difahami. Mereka sahaja yang keras hati untuk terima. Jadi, kalau telah berkali-kali diajar, tapi tak mahu terima juga, apakah guru sepatutnya buat? Tentulah guru itu tinggalkan pelajar itu, hukum pelajar itu dan sebagainya. Maka, salahkah kalau Allah beri azab kepada mereka?


Ayat 1:

الرَّحْمَٰنُ

(Tuhan) Yang Maha Pemurah serta melimpah-limpah rahmatNya.
Ayat ini ada satu perkataan sahaja. Begitu hebat sekali. Allah buat begini kerana hendak kita memikirkan dan tadabbur pada makna ayat ini. Banyak sekali pengajaran yang kita boleh ambil. Setiap ketika dan masa ada sahaja rahmah yang Allah berikan kepada kita. Apabila kita membaca satu ayat ini, bayangkan apakah rahmah yang Allah sedang beri kepada kita sekarang, hari ini, semalam, minggu ini, minggu lepas dan sebagainya. Tidak terkira banyaknya. Ada yang kita perasan dan ada yang kita tidak perasan pun. Tidak akan habis kalau kita nak kira.
Dialah Tuhan yang bersifat Rahman. Dalam Quran, ada dua nama yang selalu digunakan, samada Allah atau ar-Rahman.
Selalunya, ada dua nama yang digunakan: ar-Rahman dan ar-Rahim. Tapi dalam ayat ini, hanya ada ar-Rahman. Rahman bermaksud sangat-sangat pemurah. Ia juga bermaksud present tense, bermaksud Allah sedang melakukan pekerjaan ‘pemurah’ itu. Kerana kalau kita seseorang itu seorang yang suka memberi sedekah, tidak semestinya dia sedang memberi sedekah waktu itu. Tapi ar-Rahman bermaksud, Allah sedang bersifat Rahmah semasa kita menyebut namaNya itu.
Allah menyebut salah satu sifatNya dalam ayat ini. Asal perkataan ar-rahman itu dari perkataan ‘rahmah’. Kalau kita lihat, tempat kita semasa dalam perut ibu kita pun dipanggil rahim. Ada banyak makna rahmah itu. Antaranya: sayang, kasihan, cinta, kelembutan, kemaafan. Ia juga mengandungi makna keselamatan. Ianya mempunyai makna seseorang itu diberikan segalanya itu tanpa dia melakukan apa-apa. Tanpa ada usaha apa-apa, tapi diberikan kepada mereka. Kalau kita buat kerja, memang kita layak dapat upah. Tapi itu apabila kita ada buat kerja. Dalam hal rahmah ini, tanpa buat apa-apa pun, Allah berikan kepada kita. Bayangkan semasa kita lemah dalam perut ibu kita, Allah berikan keselamatan kepada kita dalam rahim ibu kita. Dan kemudian kita dilahirkan, dalam keadaan amat lemah. Tapi Allah berikan segala keperluan yang kita perlukan untuk meneruskan hidup. Apakah yang kita telah buat untuk melayakkan kita dapat segala perhatian dari Allah itu? – Tidak apa-apa. Tidak ada amalan ibadah apa lagi pun yang kita lakukan. Kita pun memang tak boleh buat apa-apa kerana masih bayi lagi. Tapi lihatlah berapa banyak rahmat yang Allah berikan kepada kita.
Sifat rahmah bermaksud ‘penjagaan’. Selalunya ditafsirkan sebagai mercy/kasihan. Mungkin tidak berapa sesuai kalau itu sahaja makna yang kita faham. Kerana kalau kita hanya mengambil maksud ‘kasihan’, itu hanya bermaksud Allah tidak menghukum seseorang atas kesalahan orang itu. Macam tentera tawan tawanan perang dan kerana ‘kasihan’, dia tidak membunuh orang itu. Jadi, kalau itu sahaja maksud ‘rahmah’, itu baru bermaksud ‘tidak ada perkara buruk’ sahaja. Itu adalah satu tafsir yang terhad, tidak seperti yang sepatutnya. Tapi maksud الرَّحْمَٰنُ lebih lagi dari itu. Nama sifat ini merujuk kepada sifat yang ‘menjaga segala keperluan makhluk’. Kita semua memerlukan rahmat Allah untuk hidup dalam dunia ini. Dari dalam perut, sampai kita mati. Macam bayi dalam perut memerlukan rahmah dari Allah. Allah beri penjagaan kepada bayi itu kerana bayi itu tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Nak minta tolong pun tak boleh. Maka, tanpa minta tolong pun Allah telah berikan segala kemudahan kepada bayi itu. Itulah setakat yang kita mampu jelaskan tentang maksud rahmah itu. Kita tentu tidak akan dapat memahami keseluruhan maksud nama الرَّحْمَٰنُ ini kerana kecetekan ilmu kita dan kerana kekurangan akal kita sebagai seorang manusia.
Itulah pemberian Allah dalam bahagian pertama surah ini – Allah beri kita Quran, kebolehan bercakap, alam yang begini luas dan sebagainya lagi – semua itu tanpa ada apa-apa usaha amal dari kita.
Selain dari diberikan pemberian tanpa apa-apa usaha, ada juga pemberian yang diberikan kepada makhluk atas usaha amal mereka. Ini disebut dalam bahagian kedua surah ini – Allah berikan syurga, segala apa yang ada di dalamnya, dengan bidadari dan sebagainya – ini adalah jenis pemberian yang Allah berikan atas usaha baik yang mereka telah lakukan semasa di dunia. Mereka layak mendapat segala pemberian itu. Jadi, ada dua jenis pemberian yang Allah berikan kepada kita – yang diberikan walaupun kita tidak ada apa-apa usaha dan satu lagi yang diberikan kepada kita atas amal kebaikan kita semasa di dunia.
Allah memulakan surah ini dengan memperkenalkan sifatNya ar-Rahman, kerana dalam surah ini akan disebut berkali-kali pemberian yang diberikan kepada makhluk. Kemudian Allah akan tanya balik – manakah nikmat Allah yang kamu tidak mengaku.


Ayat 2: Allah menyenaraikan rahmah-rahmahNya yang diberikan kepada kita. Susunan rahmah itu mengikut kepentingan sesuatu perkara itu. Maka, Allah mulakah dengan menyebut tentang Quran kerana itu adalah perkara yang paling penting sekali.

عَلَّمَ الْقُرْآنَ

Dialah yang mengajarkan Al-Quran.
Ini bermakna Allah sendiri yang mengajar Quran kepada kita, bukan orang lain. Guru atau ustaz yang mengajar itu hanya menyampaikan sahaja. Tapi yang memberi pemahaman adalah Allah sendiri. Kita belajar tafsir Quran dari guru kita, guru kita belajar dari guru, dari gurunya, sampai kepada sahabat, sampai kepada Nabi, yang belajar dengan Jibrail yang mendapatnya dari Allah juga. Akhirnya, pemahaman itu dari Allah juga. Kalau Allah tak beri, kita pun tidak dapat.
Kadang-kadang, pengajaran yang diberikan sama, tapi pemahaman anak murid tidak sama. Dua orang murid duduk dalam kelas yang sama, melalui pembelajaran yang sama, tapi apabila mereka periksa pemahaman mereka, tidak sama pemahaman mereka. Ini menunjukkan pemahaman itu diberikan oleh Allah. Ini menunjukkan Allahlah sebenarnya guru yang mengajar.
Allah kata Allah ‘mengajar’ Quran kepada kita, bukannya hanya ‘menurunkan’ sahaja. Allah mengajar kita dengan sifatNya yang Maha Pemurah.
Ayat ini adalah jumlah ismiah – iaitu disebut ism dahulu. Dua ayat pertama ini adalah satu perkataan yang lengkap sebenarnya: Ayat yang lengkap berbunyi begini: “Allahlah yang mengajar Quran itu”. الرَّحْمَٰنُ adalah mubtada’ dan عَلَّمَ الْقُرْآنَ adalah khabar. [Ini adalah bermanfaat kepada mereka yang ada sedikit ilmu nahu bahasa Arab]. Gunanya adalah menekankan kepada ‘pelaku’ – mengingatkan kita bahawa Allahlah sebenarnya yang mengajar Quran itu walaupun zahirnya kita nampak guru kita yang mengajar Quran dan tafsir kepada kita. Kita kena ingat bahawa pada hakikatnya Allahlah yang mengajar.
Kalau dalam dunia akademik, kita selalunya berbangga dengan guru yang mengajar kita. Kita beritahu orang bahawa syeikh itu, syeikh ini yang mengajar kita. Sekarang lihatlah, Allah yang mengajar kita sebenarnya. Kita boleh berbangga dengan mengatakan bahawa Allah lah yang mengajar Quran kepada kita. Guru kita adalah Allah sendiri.
Digunakan nama Allah الرَّحْمَٰنُ dalam ayat ini. Ada makna tertentu kenapa digunakan nama ini. Nama Tuhan yang selalu kita pakai adalah Allah, tapi tidak digunakan nama itu dalam ayat ini. Kalau digunakan nama ‘Allah’, ianya merangkumi seluruh sifat Allah. Tapi apabila digunakan namaNya ar-Rahman, ia memberi penekanan kepada sifat Rahmah Allah.
Atas sifat rahmah Allah itulah, Allah mengajarkan Quran kepada manusia. Ianya diturunkan kepada manusia sebagai penjagaan kita, kerana Allah sayang kepada kita. Allah hendak kita selamat. Bukan hanya nak menceritakan tentang halal haram dan mengajar hukum untuk manusia sahaja. Apabila kita tidak faham perkara ini, maka kita akan melihat Allah dan Quran itu sebagai sesuatu yang garang, yang hendak menentukan bagaimana kita hidup sahaja. Sikit-sikit nak hukum, sikit-sikit cerita pasal neraka sahaja – macam nak masukkan manusia dalam neraka dan beri azab sahaja. Kita jangan cetekkan pemahaman kita tentang Quran tapi hendaklah kita tahu bahawa apa yang Allah ajar dalam Quran itu adalah untuk kebaikan kita sebenarnya.
Tapi adalah sesuatu yang menyedihkan kerana manusia tidak nampak rahmah yang ada dalam Quran itu. Golongan orientalis sentiasa sahaja mencari masalah yang ada dalam Quran. Mereka mengatakan Quran itu adalah satu buku yang amat teruk sekali, yang menyuruh pengikutnya membunuh orang lain, menindas perempuan, menyembabkan masyarakat Islam mundur tidak maju dan sebagainya. Inilah retorik yang sering kita hadapi. Sampaikan zaman ini ada masyarakat barat yang menjalankan majlis membakar Quran pun ada.
Kalau ianya datang dari orang Kafir, kita masih faham lagi. Tapi kalau ianya datang dari orang Islam sendiri, bagaimana? Tentulah lagi sedih.
Dalam surah ini, akan disebutkan berbagai-bagai rahmat yang Allah berikan kepada kita. Tapi rahmat yang pertama sekali disebut adalah Quran. Selalunya yang pertama disebut, itulah yang terpenting. Oleh itu, dari sini kita boleh tahu bahawa Quranlah rahmat Allah yang paling hebat sekali.
عَلَّمَ bermaksud ‘mengajar’. Dalam bahasa Arab, sesuatu ayat yang lengkap memerlukan ‘subjek’ dan ‘predikat’. Macam kalau kita kata: ‘Ahmad pukul’, kita mesti tertanya-tanya, siapa yang Ahmad pukul? Kita akan tertanya-tanya kerana ayat itu tergantung. Tidak ada subjek kepada ayat itu. Dalam ayat ini, adalah jenis ayat yang tergantung juga. Kerana disebut tentang ‘mengajar’ – Allah yang mengajar, dan disebut apa yang ‘diajar’ – iaitu Quran – tapi tidak disebut kepada siapakah ianya diajar. Banyak jenis ayat sebegini yang terdapat dalam Quran. Apabila objek tidak disebut, ini bermakna ianya dibiarkan terbuka. Supaya ia mempunyai makna yang luas. Banyak elemen boleh dijadikan sebagai objek. Sebagai contoh, Allah mengajar Quran kepada Nabi Muhammad, kepada manusia, orang lelaki, perempuan, yang dah lama masuk Islam, yang baru masuk Islam, termasuk orang bukan Islam dan lain-lain lagi. Semuanya boleh ambil pengajaran dari Quran itu.
Perkataan عَلَّمَ bukan sahaja bermaksud ‘mengajar’ sahaja, tapi mengajar dalam masa yang lama. Mengambil masa untuk belajar. Bukan mengajar sekali harung sahaja. Bukan setakat memberitahu sahaja – kalau memberitahu sahaja, perkataan a’lama yang digunakan. Tapi meluangkan masa untuk mengajar. Inilah rahmah dari Allah – Allah meluangkan masa untuk mengajar Quran kepada kita. Inilah yang ditekankan dalam ayat ini. Maknanya, Allah bukan sahaja memberikan Quran kepada kita, tapi Allah juga mengajar kepada kita. Oleh itu, apa yang kita boleh ambil pengajaran dari sini? Kita juga kenalah meluangkan masa untuk belajar Quran itu. Bukanlah nak habiskan cepat-cepat sahaja. Bukan hendak habiskan 30 juzuk tafsir, kita belajar cepat-cepat sampai kita tidak mementingkan pemahaman lagi. Itu tidak betul. Kita kena pentingkan kefahaman daripada hendak menghabiskan belajar sahaja. Apa guna kalau kita dah habis belajar, tapi kita tidak faham? Adakah kita hendak jaja kepada orang lain yang kita sudah belajar tafsir Quran 30 juzuk? Kenapa kita nak jaja? Adakah kerana kita hendakkan pujian dari orang ramai?
Ada ulama yang mengatakan bahawa pembelajaran tafsir Quran itu ada tiga lapis. Lapis pertama adalah secara ringkas untuk semua ayat. Kemudian lapis kedua, kita mendalami pemahaman tafsir ayat-ayat Quran itu. Kemudian lapis ketiga belajar dengan lebih mendalam lagi.
Perkataan الْقُرْآنَ juga ada makna yang kita kena faham. Ianya dalam bentuk sighah mubalaghah – hyperbolize form – dalam bentuk yang kuat. Quran adalah satu kitab yang dibaca berkali-kali dengan banyak sekali. Itulah yang kita boleh faham dengan penambahan huruf ن dalam perkataan الْقُرْآنَ itu. Oleh itu, ini mengajar kepada kita bahawa memang Quran itu perlu dibaca banyak kali. Diulang-ulang baca setiap hari. Inilah yang perlu dilakukan oleh orang Islam. Tidak ada alasan untuk tidak membaca Quran. Pentingnya membaca Quran sampaikan Allah telah wajibkan kita untuk membaca Quran dalam solat kita. Itulah waktu yang yang wajib untuk kita membaca Quran, sekurang-kurangnya.
Apakah yang Allah ajar?:
1. Membaca – membaca dalam bentuk general. Ini boleh jadi tulisan mana-mana sahaja. Kalau Allah tak beri kelebihan ini kepada kita, kita langsung tak dapat baca apa-apa pun.
2. Membaca Quran – iaitu kitab yang mengandungi kalamNya ini yang sedang pelajar ini.
Kalau kita ambil pemahaman dari kedua-duanya, maka kita boleh ambil kesimpulan bahawa kita belum lagi membaca dengan sebenarnya, selagi kita tidak membaca Quran. Quranlah pembacaan yang paling penting sekali. Ianya adalah satu kitab yang selayaknya kita baca berkali-kali dan belajar tanpa henti. Hikmah yang ada di dalamnya tidak akan habis untuk kita pelajari. Bayangkan ada orang yang meluangkan masa berpuluh-puluh tahun mempelajari Quran tapi masih lagi mereka meneruskan pembelajaran. Tidak habis ilmu untuk dikaut dari ayat-ayat Allah.


Ayat 3:

خَلَقَ الْإِنسَانَ

Dialah yang telah menciptakan manusia; –
Allahlah yang menciptakan insan dari tidak ada kepada ada. Mubtada’ dalam ayat ini masih lagi sifat Allah ‘ar-Rahman’. Jadi, ini bermaksud, Allah menjadikan kita pun adalah salah satu dari sifat ar-Rahman juga. Ada yang hairan dan bertanya kenapalah mereka dijadikan. Kerana ada yang hidup dengan cacat, banyak masalah dan sebagainya. Mereka akan bertanya: “kenapalah aku diciptakan kalau nasib aku begini?”. Ini adalah kata-kata seorang yang tidak beriman. Mereka tidak dapat melihat apakah kebaikan dari kejadian mereka. Mereka tidak nampak bahawa kejadian mereka itu dijadikan dari sifat rahman Allah. Kadang-kadang memang akal kita yang terhad ini tidak dapat memahami. Hanya dengan iman kepada Allah sahaja yang boleh membuatkan kita menyerahkan urusan itu kepada Allah.
Kenapa Allah sebut Quran dahulu, kemudian sekarang baru disebut kejadian insan? Sepatutnya, kalau ikut susunan yang logik kepada kita, tentulah sepatutnya disebut dijadikan manusia dahulu, kemudian baru disebut kepada mereka itu diberikan Quran, bukan? Tapi, Allah tak susun begitu. Jadi, untuk memahamkan kenapa susunan itu begitu, kena ada penjelasan sedikit. Ini bukan susunan kronologikal tapi susunan dalam bentuk kepentingan. Allah susun ikut kedudukan kepentingan.
Mari kita buat perumpamaan untuk memudahkan kita memahaminya. Kalau kita nak buat masjid atau bangunan lain, adakah kita terus bina masjid itu atau kita akan buat plan arkitek dulu? Tentulah kita akan ada plan lengkap bagaimana rupa masjid itu dan apakah yang akan diletakkan. Begitulah juga dengan insan. Apakah plan yang perlu diikut oleh insan? Itulah Quran. Quran itu adalah panduan hidup kepada insan. Quran mengajar kita bagaimana menjalani kehidupan dalam alam ini. Bolehkah kita bayangkan bagaimana kehidupan manusia tanpa Quran? Oleh itu, dari sini kita nampak kenapakah susunan itu disebut Quran dulu barulah insan dijadikan.
Begitu juga, kalau sesuatu benda dijadikan manusia, mereka akan keluarkan manual dulu. Kerana Allah yang menjadikan kita, tentulah Allah tahu serba serbi tentang kita. Maka, Allah tahu apakah yang kita perlukan dan sesuai untuk kita. Itulah Quran yang dijadikan sebagai pedoman hidup kita. Orang yang tidak mempelajari Quran bermakna dia tidak mendapat pedoman hidup. Dia akan hidup dalam tungang langgang. Dia akan langgar sahaja peraturan hidup yang sepatutnya dia ikut.
Kata الْإِنسَانَ diambil dari kata dasar انس yang bermaksud ‘kasih sayang’. Manusia ada kelebihan ini. Allah menjadikan manusia yang seperti ini. Manusia boleh memberi sayang dan memerlukan sayang juga. Binatang tidak ada keperluan ini. Mereka hidup macam itu sahaja. Quran juga ada mengajar manusia tentang sifat ini kepada manusia. Kerana Quran itu bukan sahaja kitab tentang hukum halal dan haram sahaja tapi juga mengandungi ajaran bagaimana berurusan dengan manusia. Hendaklah kita bersemangat untuk belajar tafsir Quran ini. Mereka yang tidak mahu belajar adalah kerana mereka tidak tahu apakah Quran itu lagi.
Satu lagi pendapat mengatakan bahawa kata dasar الْإِنسَانَ itu adalah dari perkataan nasiya – lupa. Memang tidak dinafikan manusia itu memang mudah lupa. Maka sebab itulah kita amat memerlukan peringatan sentiasa. Maka itulah sebabnya Quran itu adalah peringatan kepada kita. Sampaikan salah satu nama bagi Quran itu adalah الذكرى – peringatan. Begitulah rahmah Allah kepada kita semua. Allah tidak biarkan kita begitu sahaja tanpa panduan dan ingatan. Sebab itulah banyak ayat Quran diulang-ulang perkara yang sama. Kerana kita selalu lupa tanggungjawab kita. Maka Allah ingatkan kita. Bukan kita tak tahu, tapi kita lupa. Kita memang memerlukan peringatan itu. Macam kita suruh anak kita ulangkaji, bukan dia tidak tahu dia kena ulangkaji. Cuma selalu lupa sahaja. Maka, kita kena ingatkan berkali-kali.
Allah mengatakan manusia itu pelupa. Tapi apakah yang kita lupa? Kita lupa tentang Allah. Itulah yang disebut dalam ayat pertama dalam surah ini. Kita lupa siapakah ar-Rahman itu. Padahal kita sudah kenal Allah dari sebelum kita diturunkan ke alam dunia lagi, seperti yang disebut dalam A’raf:172:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,
Malangnya, apabila manusia masuk ke alam dunia, kita sudah lupa siapakah Allah itu. Maka, itulah sebabnya Quran mengingatkan kita kembali tentang Allah. Apabila seseorang itu lupa, peringatanlah perkara yang paling penting kepada orang itu.


Ayat 4:

عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

Dia lah yang telah mengajar manusia berkata-kata.
Untuk membolehkan manusia memahami Quran yang disampaikan, Allah telah memberikan manusia kebolehan berkata-kata dan memahami konsep yang kompleks. Inilah yang dikatakan diajar kepada Nabi Adam a.s. apabila baginda diajar ‘asma’.
Sekali lagi Allah menggunakan kata ‘mengajar’ dalam ayat ini. Kali ini Allah telah khususkan bahawa yang diajar adalah ‘manusia’ dalam ayat ini. Ini adalah kerana masdar ‘hu’ dalam perkataan عَلَّمَهُ  itu merujuk kepada manusia, seperti yang telah digunakan dalam ayat sebelumnya.
Tapi dalam mengajar Quran, Allah tak sebut ‘siapa yang diajar’. Tapi dalam mengajar berkata-kata, Allah cakap ajar kepada ‘manusia’. Tidak disebut yang Quran ini diajar kepada manusia, atau kepada nabi, atau kepada Jibrail dan sebagainya. Ini adalah kerana Quran itu bersifat universal. Pengajaran Quran itu bersifat menyeluruh. Pengajaran Quran boleh dimanfaatkan oleh banyak jenis makhluk. Itulah salah satu lagi dari rahmah Allah. Ia terbuka kepada semua sekali. Sesiapa sahaja yang Allah mahu, Allah akan beri.
Tapi tidak semua makhluk diberikan dengan kebolehan berkata-kata. Allah beri kita kebolehan berkata-kata dan faham perkataan ini adalah supaya kita boleh belajar Quran.
Kalau Allah sendiri dah kata yang Dia sendiri yang ajar Quran itu, tapi kita buat tak kisah sahaja, dengan tidak ada usaha nak belajar, itu menunjukkan yang kita sombong. Kalaulah ada orang yang beri kita hadiah yang mahal, tapi di depannya sahaja kita sudah buat tak endah sahaja, itu adalah jenis yang kurang ajar bukan? Orang yang tidak menghargai, bukan? Maksudnya kita tidak menghargai orang yang memberi itu, bukan? Bermakna, kita yang tidak belajar Quran ini sebenarnya tidak menghargai Allah sendiri. Kita boleh kata kita sayang Quran, tapi bukti kita sayang adalah kita mempelajarinya.
Semua makhluk ada ‘kalam’- boleh bercakap dalam bahasa mereka, tapi tidak semua ada ‘bayan’. Apa bezanya? Perkataan الْبَيَانَ diambil dari perkataan بين yang bermakna ‘membezakan antara dua perkara’. Iaitu boleh mengasingkan dari satu idea ke satu idea, dari syllable ke syllable, paragraph, chapter, buku dan sebagainya. Kita belajar dengan memisahkan satu perkara dengan perkara yang lain. Bandingkan antara A dan B supaya lebih faham. Pecahkan sesuatu perkara yang kompleks kepada bahagian-bahagian yang asas dan kemudian fahamkan yang asas itu satu persatu. Inilah kelebihan yang diberikan kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lain. Manusia diberikan kelebihan berkomunikasi sebegini. Sebab itulah kita boleh menulis buku, thesis, computer code programming dan sebagainya. Tak semua makhluk ada kebolehan ini. Cara percakapan manusia adalah pada tahap yang tinggi.
Manusia adalah jenis makhluk yang boleh nampak arahan hanya dengan kata-kata. Macam makhluk lain, mereka perlu nampak benda itu. Macam binatang, mereka perlu nampak api di hutan, barulah mereka akan lari dari api itu. Tapi dengan manusia, kita boleh faham arahan dalam bentuk perkataan. Sebab itu kita boleh terima peringatan dalam bentuk Quran. Sebab itulah Allah turunkan peringatan dalam bentuk kata-kata/kalam. Jadi, kalau ada yang tak mahu terima peringatan itu, kerana kononnya mereka kata mereka nak lihat juga lihat Allah, lihat malaikat dan sebagainya, mereka sebenarnya menidakkan kebolehan mereka yang boleh memahami kata-kata. Mereka nak kata bahawa mereka macam binatang juga, dah nampak baru nak percaya.
Lagi satu maksud الْبَيَانَ  adalah ‘kejelasan’. Kita boleh faham sesuatu perkara dengan jelas dan kita ada kebolehan untuk menyampaikan sesuatu itu dengan jelas.
Kelebihan yang ada pada manusia ini amat dihormati oleh makhluk lain termasuk malaikat. Mereka pun tidak ada kebolehan ini. Begitulah yang terjadi pada Nabi Adam yang Allah telah ajar semua asma’ sampaikan malaikat pun hormat kerana mereka tak tahu. Ini kita boleh rujuk dalam 2:31-32.  Jadi, kita kena hormat apa yang keluar dari mulut kita kerana kebolehan memahami dan menyampaikan الْبَيَانَ  ini adalah sesuatu yang dihormati. Kata-kata lucah, kata kotor, kata-kata kosong, yang buang masa dan sebagainya, itu tidak sesuai untuk seorang muslim. Ingatlah bahawa kebolehan berkata-kata ini Allah beri supaya kita boleh baca Quran. Jangan kita kotorkannya dengan perkataan yang tidak patut.
Dalam ayat sebelum ini, telah disebut Allah mengajar Quran kepada makhluk. Maka, kita lihat manusia yang beragama Islam akan menghormati Quran itu – mereka akan pegang dan junjung Quran, nak baca pun ambil wudu, kalau perempuan tak bertudung pun bila nak baca Quran tiba-tiba pakai tudung, membelakangi Quran pun ramai takut nak buat, negara kita pun selalu buat pertandingan musabaqah Quran (walaupun ini adalah satu perkara yang salah kerana Quran tidak boleh dipertandingkan), dan sebagainya, itu semua menunjukkan bagaimana manusia hormat kepada Quran itu. Kerana Allah yang mengajarnya. Lalu, bagaimana dengan kata-kata manusia ini? Tidakkah kita perlu menghormatinya juga? Tentulah sepatutnya begitu juga kerana ia juga diajar Allah sama seperti Quran juga. Seperti yang disebut dalam ayat ini.
Orang Islam kena berhati-hati dengan apa yang mereka kata dan apa yang mereka baca. Kerana amat banyak sekali perkara yang mengarut dalam dunia ini. Terutama sekali kerana kita sekarang berada dalam zaman internet. Lagi senang terdedah kepada benda yang buang masa ini. Lagi banyak terbuka kepada idea-idea yang mengarut. Lagi banyak peluang terpesong kerana terpengaruh dengan pendapat-pendapat yang berbagai-bagai yang tidak berdasarkan nas yang benar.
Allah kata Allah mengajar manusia berkata-kata. Allah tidak spesifik mengatakan bahasa Arab atau bahasa mana-mana. Allah cuma cakap ‘berkata-kata’ sahaja. Ini bermaksud, semua bahasa adalah diajar oleh Allah. Kerana Allah lah yang membolehkan manusia berkata dalam bahasa mereka. Kerana itulah kita kena menghormati bahasa orang lain. Janganlah kerana kita tidak suka orang kafir, kita kutuk bahasa mereka. Ingatlah bahawa bahasa Inggeris itu pun diajar oleh Allah juga.
Kita juga jangan mengejek bangsa dan bahasa negara lain. Tapi itulah yang banyak digunakan dalam komedi dan lelucon. Kita suka mentertawakan sesuatu bangsa yang bukan dari bangsa kita. Maka kita jangan terlibat dengan perkara itu. Maka, kita sebagai muslim kena pandai cari alternatif kepada hiburan yang tidak menyebabkan dosa. Bandingkan apa yang digunakan sebagai hiburan zaman kita dan bandingkan dengan hiburan zaman dahulu. Zaman dulu jauh lebih bermaruah dan sofistikated. Mereka berhibur dengan menggunakan kisah-kisah dan syair dan sajak yang indah. Tapi, lihatlah kita sekarang, apakah bahan hiburan kita – lagu, kata-kata lucu, laman social media yang berbagai-bagai dan banyak lagi. Ianya jauh rendah dari apa yang digunakan sebagai bahan hiburan zaman dahulu. Maknanya, kita menuju kepada kejatuhan dan bukan kemajuan.
Kebolehan manusia itu boleh berkata-kata dalam bermacam-macam bahasa. الْبَيَانَ bermaksud menyampaikan apa yang kita hendak sampaikan. Tapi, bukan setakat bercakap sahaja, tapi merangkumi semua cara untuk menyampaikan maksud kita. Samada dengan cara signal ataupun menulis dan sebagainya.
Apakah kepentingan dalam kebolehan menyampaikan kehendak kita? Pertamanya, ini membezakan kita dengan makhluk lain dalam dunia ini. Binatang tak boleh nak bercakap atau menyampaikan maksud mereka dengan jelas. Memang mereka ada juga cara komunikasi mereka, tapi tak jelas macam manusia.
Keduanya, telah disebut dalam ayat sebelum ini tentang kita telah diberikan Quran. Selepas kita dapat Quran, kita kenalah menggunakan kebolehan menyampaikan (الْبَيَانَ ) itu dengan menyampaikan Quran kepada manusia. Itu adalah satu tanggungjawap kita. Kena sampaikan kepada dunia, jangan simpan sendiri. Nabi pun suruh kita sampaikan Quran kepada manusia. Walaupun kita dapat satu ayat sahaja dari Quran, kita kena sampaikan juga kepada manusia lain. Tapi, sebelum sampaikan, kenalah kita faham dahulu apakah tafsir Quran itu. Itulah pentingnya kena belajar tafsir Quran. Kalau kita sendiri pun tak tahu dan tak faham, ditakuti apa yang kita sampaikan itu salah pula. Dan memang akan salah pun kalau kita tak belajar.
Akhir sekali, dari ayat ini kita dapat isyarat bahawa seorang muslim kena tahu banyak bahasa. Bahasa lain membuka alam pengetahuan kepada kita. Kita kena ajar anak kita bahasa lain. Kerana semua bahasa ini sebenarnya diajar oleh Allah. Allah lah yang menjadikan adanya bahasa-bahasa ini. Allah pilih satu bahasa iaitu bahasa Arab sebagai bahasa pilihan untuk kalamNya (Quran). Tapi tidaklah bahasa lain tidak elok. Kita kena hormat bahasa lain. Janganlah kita macam sesetengah orang yang ekstrem sayangkan bahasa Arab sampaikan mengutuk bahasa lain terutama sekali bahasa Inggeris – sampai yang kata bahasa Inggeris adalah bahasa syaitan. Ma sha Allah.


Ayat 5: Kalau kamu masih tidak mahu beriman dengan Quran dan dengan melihat kepada segala bahasa yang Allah telah jadikan, maka lihatlah kepada alam pula.
Sebelum ini Allah berkata tentang manusia. Sekarang tentang alam juga. Kenapa? Alam pun Allah pun yang jadikan. Tapi alam yang dijadikan Allah itu mengikut arahan Allah.

الشَّمسُ وَالقَمَرُ بِحُسبانٍ

Sahih International
The sun and the moon [move] by precise calculation,
Malay
Matahari dan bulan beredar dengan peraturan dan hitungan yang tertentu;

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Matahari dan bulan menurut ketetapan;
Keduanya bergerak di tempatnya dan dalam orbit mengikut ketetapan yang Allah telah berikan kepada keduanya.
Perkataan حُسْبَانٍ adalah hyperbolize form kepada perkataan حسب (hisab) yang bermaksud ‘kiraan’. Apabila dalam bentuk hyperbolize form, ianya bermaksud ‘pengiraan yang amat tepat’. Lihatlah pengajian astronomi yang mengatakan bahawa kedudukan bulan, matahari dan segala planet adalah dalam kedudukan yang tepat sekali. Kalaulah ianya bergerak sedikit sahaja dari kedudukan itu, maka langit akan bertempiaran lari kedudukan segala planet termasuk bumi sekali.
Ianya juga adalah isyarat kepada ‘pengiraan masa’. Manusia adalah makhluk yang paling mulia. Tapi ada lagi makhluk lain yang lebih menghormati masa dari kita. Mereka disiplin dengan masa. Cukup waktu sahaja, ianya akan bergerak mengikut ketetapan Allah. Kita yang disiplin pun ikut pergerakan matahari dan bulan itu. Antaranya kita akan ikut pergerakan matahari dan bulan itu untuk mengira waktu solat. Dan juga kita menggunakan kedudukan matahari dan bulan untuk mengira masa – hari dan bulan (bulan Qamariah).
Allah nak kita lihat kebaikan yang ada dalam makhluk ciptaanNya yang lain dan memasukkan kebaikan itu dalam diri kita. Ambil mana yang baik. Allah selalu buat begini – bandingkan alam dengan kita. Oleh itu kita kenalah lihatlah alam ini dan ambil pengajaran dari alam ini. Bukanlah kita memerhatikan dengan kosong sahaja – tahulah kita bahawa Allah hendak mengajar kita dengan menyuruh kita melihat alam itu.
حُسْبَانٍ juga bermaksud ‘kemusnahan yang amat besar’. Yang akan berlaku pada masa yang telah ditetapkan. Allah nak mengatakan bahawa matahari dan bulan itu akan musnah apabila tiba masanya. Tidak akan diawalkan dan tidak akan dilewatkan. Kita sahaja yang tidak tahu bilakah ianya akan terjadi. Yang tahu hanyalah Allah sahaja.
Ianya mengingatkan kita kepada hari Kiamat yang pasti berlaku. Tanda hari akhir adalah kedatangan Nabi Muhammad. Kedatangan Nabi Muhammad itu pun sudah satu tanda. Semua Nabi-nabi sebelum nabi Muhammad telah menerangkan kepada umat mereka tentang kedatangan Rasul Akhir Zaman. Satu lagi tanda akhir adalah bulan terbelah. Ini pun telah terjadi. Kedatangan Quran juga adalah tanda akhir. Semua itu telah ada. Yang tinggal adalah kehancuran matahari dan bulan yang disebut dalam ayat ini. Kehancuran keduanya itu adalah tanda yang amat akhir sekali.


Ayat 6:

وَالنَّجمُ وَالشَّجَرُ يَسجُدانِ

Sahih International
And the stars and trees prostrate.
Malay
Dan bintang-bintang serta pohon-pohon kayu-kayan, masing-masing tunduk menurut peraturanNya.

وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ

Dan bintang-bintang serta pokok-pokok,
Bintang dan pokok adalah dua benda yang orang Arab tenung sentiasa. Kepada mereka itulah keindahan yang ada pada zaman itu. Waktu itu tidak ada hiburan lain lagi, macam tv, internet dan sebagainya. Pada malam hari mereka akan lihat bintang dan memikirkan tentangnya. Mereka juga adalah bangsa yang suka tidur malam hari di atas bumbung rumah mereka. Dan apabila tinggal di padang pasir, kalau ada pokok, itu adalah satu kegembiraan kepada mereka. Kerana pokok tidak banyak, padang pasir yang banyak. Jadi, bila ada pokok, mereka akan suka.

يَسْجُدَانِ

masing-masing tunduk menurut peraturanNya.
Ada ulama yang mengatakan bagaimana rupa bintang itu pun dalam bentuk sujud juga. Iaitu apabila tahi bintang jatuh. Dan pokok-pokok pun kita boleh nampak bagaimana ianya kadang-kadang dalam bentuk sujud juga. Dan bagaimana bayangnya menjadi panjang yang seperti sujud juga.
Jadi dua benda yang mereka pandang tinggi itu pun sujud kepada Allah. Jadi kenapa kamu sendiri tidak sujud kepada Allah?
Manusia lebih mulia dari ciptaan yang lain. Tapi walaupun mereka rendah dari kita, mereka sujud dan taat kepada Allah. Mereka tidak diajar Quran, tapi mereka taat juga kepada Allah. Maka, kita yang lebih mulia, dan telah diberikan Quran, sepatutnya kita lebih taat lagi kepada Allah.


Ayat 7: ada tiga ayat yang menyebut الْمِيزَانَ selepas ini. Menunjukkan betapa pentingnya ‘keadilan itu’. Mari kita lihat.

وَالسَّماءَ رَفَعَها وَوَضَعَ الميزانَ

Sahih International
And the heaven He raised and imposed the balance
Malay
Dan langit dijadikannya (bumbung) tinggi, serta Ia mengadakan undang-undang dan peraturan neraca keadilan,

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا

Dan langit ditinggikan,

وَوَضَعَ الْمِيزَانَ

serta diadakan neraca keadilan,
Dengan akal manusia yang diberikan oleh Allah, manusia boleh mengadakan/menegakkan keadilan.
Allah nak kita melihat alam dan mengambil pengajaran dari alam. Lihatlah kepada langit. Langit itu tinggi dan amat seimbang. Semuanya berada pada tempatnya. Ini adalah isyarat kepada ‘keadilan’. Allah hendak kita berlaku adil. Maka, Allah tidak suka kalau kita tidak adil. Katakanlah kita seorang peniaga, maka kita kena timbang dengan tepat. Jangan bagi kurang kepada pembeli kita. Atau kalau kita pegawai yang menjaga undang-undang, jangan kita ambil peluang dari kedudukan kita. Macam pegawai polis trafik yang tahan pesalah jalan raya dan mereka ambil rasuah dari mereka itu. Atau polis yang tahan pendatang asing dan buat pasal supaya mereka boleh ambil duit dari mereka. Banyak lagi contoh-contoh yang berkenaan keadilan ini yang hendaklah kita tegakkan.


Ayat 8: Perkataan الْمِيزَانَ digunakan sekali lagi.

أَلّا تَطغَوا فِي الميزانِ

Sahih International
That you not transgress within the balance.
Malay
Supaya kamu tidak melampaui batas dalam menjalankan keadilan;

أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

Supaya kamu tidak melampaui batas dalam menjalankan keadilan;
Katakanlah kita telah diberikan amanah untuk belajar. Oleh ayah kita, komuniti kita, oleh keluarga kita dan sebagainya. Mereka membayar biaya kita untuk belajar di kolej, di universiti dan sebagainya. Kalau kita belajar sambil lewa dan tidak belajar, maka kita telah menidakkan amanah itu.


Ayat 9: Sekali lagi disebut perkataan mizan itu.

وَأَقيمُوا الوَزنَ بِالقِسطِ وَلا تُخسِرُوا الميزانَ

Sahih International
And establish weight in justice and do not make deficient the balance.
Malay
Dan betulkanlah cara menimbang itu dengan adil, serta janganlah kamu mengurangi barang yang ditimbang.

وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ

Dan betulkanlah cara menimbang itu dengan adil,

وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

serta janganlah kamu mengurangi barang yang ditimbang.
Janganlah juga kita tidak berlaku adil. Lebih-lebih lagi kalau kita dalam kedudukan yang boleh memberi keputusan. Mungkin kita adalah hakim, pemimpin, ibubapa, pegawai di tempat kerja dan sebagainya. Hendaklah kita berlaku adil dan menegakkan keadilan.


Ayat 10: Allah suruh lihat kepada nikmat yang diberiNya kepada kita di bumi pula.

وَالأَرضَ وَضَعَها لِلأَنامِ

Sahih International
And the earth He laid [out] for the creatures.
Malay
Dan bumi pula dijadikannya rata untuk kegunaan manusia dan makhluk-makhlukNya yang lain:

وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ

Dan bumi pula dijadikannya untuk kegunaan manusia dan makhluk-makhlukNya yang lain:
Perkataan أنام bermaksud semua kehidupan yang bernyawa. Manusia, binatang, serangga dan sebagainya. Bukannya dunia ini dijadikan untuk kita sahaja tapi semua makhlukNya yang hidup di dunia ini. Hendaklah kita menghormati juga kehidupan mereka. Jangan kita tindas mereka. Ini penting kerana ada manusia yang menyiksa binatang-binatang dalam alam ini. Dan telah memotong tanaman-tanaman untuk kepentingan mereka.


Ayat 11:

فيها فاكِهَةٌ وَالنَّخلُ ذاتُ الأَكمامِ

Sahih International
Therein is fruit and palm trees having sheaths [of dates]
Malay
Terdapat padanya berbagai jenis buah-buahan dan pohon-pohon kurma yang ada kelopak-kelopak mayang;

فِيهَا فَاكِهَةٌ

Terdapat padanya berbagai jenis buah-buahan
Perkataan فَاكِهَةٌ asalnya bermaksud ‘gembira’. Digunakan untuk merujuk kepada buah-buahan kerana apabila makan buah-buahan, kita jadi suka dan tersenyum. Rasanya yang enak telah menggembirakan kita.
Allah nak beritahu bahawa Allah beri kehidupan ini dan segala keindahannya adalah untuk manusia dan juga makhluk-makhluk lain yang ada di bumi. Semua makhluk dapat makan segala rezeki yang Allah kurniakan. Tapi yang dapat menghargai makanan yang sedap adalah manusia. Bukan makan setakat nak hidup sahaja. Tapi kita pandai makan makanan yang beri kepuasan untuk kita. Kita sanggup mencari makanan yang sedap-sedap kerana kita dapat menghargai makanan. Oleh itu, lihatlah rahmat Allah kepada kita. Kalau nak bagi cukup makan untuk kelangsungan hidup sahaja, tak perlu nak bagi makanan yang sedap pun.

وَالنَّخْلُ

dan pohon-pohon kurma
Pokok kurma adalah sesuatu yang cantik kepada orang Arab. Bukan hanya kepada mereka sahaja. Ada tempat-tempat lain dalam dunia ini, yang menunjukkan manusia suka kepada pokok palm ini. Lihatlah kawasan California yang banyak pokok palm. Dan ia menjadi satu tempat yang mahal. Kerana ia memberi perasaan gembira dan puas kepada mereka yang melihatnya.
Pokok palm yang dijadikan hiasan lanskap dalam hiasan moden.
Allah selalu sebut pokok kurma dalam Quran kerana Quran mula diturunkan kepada bangsa Arab. Jadi, mereka dah biasa dengan kurma. Bukanlah nak kata hanya pokok kurma sahaja yang ada dalam dunia ini. Kalau di tempat kita, banyak lagi jenis buah-buahan. Tapi kalau dengan orang Arab diceritakan tentang rambutan, sudah jadi satu kerja pula nak menerangkan kepada mereka apakah rambutan itu kerana mereka tak pernah tengok pokok rambutan.

ذَاتُ الْأَكْمَامِ

yang ada kelopak;
Bukan dengan buah sahaja, tapi Allah beri buah kurma itu dengan kelopak sekali. Buah itu ada pembalut sekali sebagai pelindung. Itulah hadiah Allah kepada manusia. Bandingkan kalau kita beri hadiah kepada seseorang, kalau hadiah itu penting, maka kita akan balut hadiah itu dulu. Kehebatan hadiah itu boleh dilihat dengan hebat balutan juga. Kadang-kadang, tengok pembalut sahaja kita dah suka kerana dibalut dengan cantik dan kemas. Kalau balutan pun dah cantik, maka hadiah itu pun selalunya lagi cantik.
Food packaging pula adalah satu perniagaan yang bernilai trillion dollar. Hampir semua makanan dijual dengan bungkusan yang cantik-cantik. Tapi pembungkus makanan manusia menyebabkan keburukan kepada alam sekitar. Tapi lihatlah pembungkus makanan yang dibuat oleh Allah: kalau kita buang pembungkus kelopak itu ke tanah, ia tidak akan mencemarkan tanah kerana ianya adalah biodegradable. Tapi pembungkus makanan manusia, kalau dibuang begitu sahaja, akan menyebabkan kerosakan pada tanah. Tapi Allah jadikan pembungkus makanan dalam buah-buahan dan tanaman amat baik sekali. Tak kisah kalau nak buang ke tanah. Bahkan ianya akan menjadikan tanah itu lebih subur lagi. Ma sha Allah. Lihatlah nikmat Allah ini.


Ayat 12:

وَالحَبُّ ذُو العَصفِ وَالرَّيحانُ

Sahih International
And grain having husks and scented plants.
Malay
Demikian juga terdapat biji-bijian yang ada jerami serta daun, dan terdapat lagi bunga-bungaan yang harum;

وَالْحَبُّ

Demikian juga terdapat biji-bijian

ذُو الْعَصْفِ

yang ada kulit,
Untuk biji-bijian pula Allah jadikan kulit sebagai pelindung kepada bijian itu. Bila kita nak makan, kita kupas dan bijian itu akan segar lagi dan sedap. Kulit-kulit itu pula cantik. Kadang-kadang digunakan dalam design yang dijadikan manusia.

وَالرَّيْحَانُ

dan berbau harum;
Iaitu angin yang berbau harum. Sedap dihidu dan menyegarkan. Ini boleh dialami kalau kita pergi ke kawasan ladang apabila musim menuai. Akan dapat menghidu bau wangi itu.
Itu semua adalah keindahan yang diberikan kepada manusia. Manusia kafir tidak nampak segala keindahan alam ini kerana mereka dah biasa nampak. Mereka anggap ia sebagai biasa sahaja. Mereka tak nampak bahawa yang menjadikan segala itu adalah Allah. Dan Allah telah memberi segala kehebatan dan keindahan itu kepada manusia.
Mereka minta nak lihat perkara-perkara ajaib, tapi mereka lupa bahawa semua yang mereka lihat dalam ini adalah semuanya yang ajaib belaka. Mereka sahaja yang tertutup pintu hati mereka sampai mereka tak nampak. Oleh itu, mereka minta nak lihat Allah, nak lihat malaikat. Mereka minta supaya tanah Arab yang padang pasir itu dijadikan menghijau. Dan macam-macam lagi yang mereka minta. Kononnya, mereka kata: ‘Seeing is believing’. Tapi itu adalah hanya alasan mereka sahaja. Kalau mereka melihat alam ini dengan mata hati, mereka telah nampak kewujudan Tuhan. Tapi hati mereka telah tertutup mati.


Ayat 13: Inilah ayat yang diulang-ulang dalam surah ini. Apabila Allah memperkatakan tentang neraka, ayat ini diulang tujuh kali. Apabila memperkatakan tentang syurga, Allah mengulang ayat ini sebanyak lapan kali pula. Iaitu sama dengan bilangan pintu syurga dan pintu neraka.

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُما تُكَذِّبانِ

Sahih International
So which of the favors of your Lord would you deny?
Malay
Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan (wahai umat manusia dan jin)?

فَبِأَيِّ آلَاءِ

Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat
Segala benda yang Allah telah jadikan dalam alam ini, dengan segala keindahan dan kegunaanya, apa lagi yang kamu hendak? Apa lagi yang kamu rasa Allah tak cukup beri lagi? Apa nikmat yang Allah telah berikan kepada kamu yang kamu tak mengaku datang dari Dia?
Nikmat mana yang kamu tak nampak lagi? Kamu nak tengok kebenaran, tidakkah kamu nampak semuanya yang telah ada dalam alam ini?

رَبِّكُمَا

Tuhan kamu berdua,
Apabila digunakan perkataan كما dalam ayat ini, ia merujuk kepada ‘dua entiti’. Siapakah yang dimaksudkan? Tidak disebut dalam ayat ini, hanya sebagai isyarat sahaja. Akan diterangkan selepas ini.

تُكَذِّبَانِ

yang kamu hendak dustakan?
Dengan segala apa yang Allah telah jadikan untuk kita, apa lagi yang kita hendak? Perkataan ‘dustakan’ itu bermaksud macam tidak mengaku telah menerima segala nikmat-nikmat itu.
Mesej Islam yang diingatkan kepada umatNya adalah untuk bersyukur kepada Allah. Kita kena bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Entah berapa banyak nikmat yang telah diberikan. Kita hanya pakai sahaja tapi tak bersyukur pun. Segala makanan, kesenangan, keamanan dan segala-galanya sampai tidak terkira. Kita sekarang makanan banyak sangat sampai banyak yang terlebih dan dibuang begitu sahaja. Itu adalah tanda orang yang tidak bersyukur apabila kita membazir. Kerana kalau kita menghargai sesuatu pemberian, kita tidak akan mensia-siakannya.
Nikmat itu kita selalu sangat dapat sampaikan kita rasa dah biasa sangat dah. Jadi kita rasa kita dah layak dapat benda tu. We take things for granted. Kalaulah sekali kala kita tak dapat atau kalau kita hanya dapat jarang-jarang, baru kita tahu erti nikmati itu.
Orang miskin senang sahaja untuk jadi gembira. Dapat barang sikit pun mereka dah gembira dah. Tapi orang kaya yang kononnya macam-macam mereka ada, selalu sahaja dalam kegelisahan. Selalu sahaja ada yang tak cukup. Ada sahaja masalah yang mereka nampak. Kalau ada masalah yang menyebabkan mereka susah sikit sahaja pun, mereka dah resah dah. Nak mengadu sahaja. Padahal, mereka macam-macam dah ada. Itulah sebabnya kejadian bunuh diri tinggi di negara yang maju kononnya. Kerana mereka ada sahaja masalah mereka.
Ini semua terjadi kerana kita tidak mengajar konsep ‘bersyukur dengan apa yang ada’ – ini adalah sifat ‘qanaah’. Kita tidak ajar anak-anak kita bagaimana menghargai nikmat yang ada. Oleh itu, mereka nak komplen sahaja. Padahal dah banyak dah mereka diberikan dengan nikmat dari Allah.
Ini terjadi apabila mereka rasa tinggi diri. Mereka sangka mereka ada kedudukan. Maka, Allah jelaskan siapakah kita. Dari manakah kita dijadikan.


Ayat 14:

خَلَقَ الإِنسانَ مِن صَلصالٍ كَالفَخّارِ

Sahih International
He created man from clay like [that of] pottery.
Malay
Ia menciptakan manusia (lembaga Adam) dari tanah liat kering seperti tembikar,

خَلَقَ الْإِنسَانَ

Ia menciptakan manusia
Yang dimaksudkan di sini adalah Allah lah yang menjadikan manusia itu. Ini adalah salah satu lagi nikmat Allah kepada kita yang amat hebat.

مِن صَلْصَالٍ

dari tanah liat kering
Ini adalah tempat tanah yang kering. Pecah-pecah. Iaitu apabila tanah itu telah lama tidak mendapat air.
Contoh tanah yang telah kekeringan
Contoh tanah yang telah kekeringan

كَالْفَخَّارِ

seperti tembikar,
Kalau tembikar dah pecah, ada guna lagi tak? Tidak berguna langsung. Ini hendak mengingatkan diri kita betapa rendahnya diri kita. Jangan ingat kita ini tinggi. Kita ingat kita ada kepentingan dan ketinggian, tapi tidak sebenarnya. Kita patut rasa rendah diri. Orang yang rendah diri selalunya senang bersyukur. Apabila mereka dapat nikmat, mereka akan menghargai nikmat pemberian itu. Yang rasa tinggi diri sahaja yang selalunya susah untuk bersyukur.


Ayat 15:

وَخَلَقَ الجانَّ مِن مارِجٍ مِن نارٍ

Sahih International
And He created the jinn from a smokeless flame of fire.
Malay
Dan Ia telah menciptakan jin dari lidah api yang menjulang-julang;

وَخَلَقَ الْجَانَّ

dan Dia menciptakan jin
Bukan sahaja Allah menciptakan manusia seperti yang disebut dalam ayat sebelum ini, tapi Allah juga yang mencipta golongan jin. Dalam ayat ini, Allah mula menyebut tentang jin. tahulah kita bahawa, yang dimaksudkan ‘Tuhan kamu berdua’ itu merujuk kepada manusia dan jin.
Ada banyak persamaan antara jin dan manusia. Mereka juga ada muka, kaki dan tangan. Mereka juga ada nafsu seperti kita juga. Mereka juga ada tanggungjawab agama sepertimana juga kita. Cuma bezanya, mereka tidak ada Rasul. Mereka juga boleh terbang. Mereka boleh terbang sampai ke langit. Mereka tidak terbang dengan sayap kerana mereka tidak ada sayap. Mereka ada tanduk dan mereka ada kaki seperti kaki kambing. Malaikat ada sayap. Seperti Jibrail dia ada 600 sayap. Jin boleh terbang dengan kehendak mereka.
Dalam ayat ini baru disebut jin. Tapi dalam ayat ke 13 sebelum ini telah diberi isyarat tentang mereka apabila Allah menggunakan perkataan كما (Kamu berdua) yang merujuk kepada manusia dan jin. Mufassir berkata, ini dilakukan kerana Allah tahu bahawa ada jin-jin yang mendengar bacaan Quran ini dan mereka telah disebut secara isyarat sebelum diceritakan tentang mereka.

مِن مَّارِجٍ

dari nyalaan pucuk
Iaitu kalau kita lihat bahagian api itu, ianya adalah bahagian atas api itu. Iaitu bahagian api yang kita tak nampak. Bahagian itulah yang paling panas sekali.

مِّن نَّارٍ

dari api.


Ayat 16: Kali kedua ayat ini diulang

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُما تُكَذِّبانِ

Sahih International
So which of the favors of your Lord would you deny?
Malay
Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan?

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka hikmat kekuasaan Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Ayat ini sama dengan ayat-ayat yang sebelum ini dan sama dengan ayat-ayat yang lain. Tapi ulama membezakan apakah yang dimaksudkan, supaya bersesuaian dengan ayat sebelumnya. Sebelum ini disebut tentang kejadian manusia dari tanah liat dan jin pula dijadikan dari api. Tapi kalau kalimah آلَاءِ bukannya diterjemahkan sebagai ‘nikmat’ sahaja, tapi boleh membawa maksud yang lain. Ia juga boleh membawa maksud ‘hikmat’ dan ‘kekuasaan’. Jadi dalam ayat ini, lebih sesuai kalau digunakan maksud ‘hikmat’ dan ‘kekuasaan’.


Ayat 17:

رَبُّ المَشرِقَينِ وَرَبُّ المَغرِبَينِ

Sahih International
[He is] Lord of the two sunrises and Lord of the two sunsets.
Malay
(Dia lah) Tuhan yang mentadbirkan dua timur, dan Tuhan yang mentadbirkan dua barat.

رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ

Tuhan dua timur
Tuhan yang mencipta dan memelihara kedua tempat terbit matahari
Merujuk kepada dua musim. Matahari akan terbit dari timur. Tapi dalam masa enam bulan, tempat naik matahari itu akan berubah sedikit. Jadi, seperti ada dua tempat matahari itu naik. Mulanya, kita mungkin boleh nampak matahari naik dari satu tingkap. Tapi enam bulan kemudian, kita nampak naik dari tingkap yang sebelahnya pula.
Satu lagi tafsir mengatakan, ia merujuk kepada keseluruhan timur itu. Ada timur sebelah kanan dan ada timur sebelah kiri. Maka, ini hendak mengatakan Tuhan itu adalah Rabb kepada semua arah.

وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ

dan Tuhan dua barat
dan Tuhan yang mencipta dan memelihara kedua tempat terbenamnya
Matahari akan terbenam ke barat pada satu tempat. Tapi dalam masa enam bulan, tempat matahari terbenam itu akan berubah sedikit. Jadi, seperti ada dua tempat matahari itu terbenam.
Tafsir lain juga ada menyatakan, ia merujuk kepada keseluruhan barat itu. Ada barat sebelah kanan dan ada barat sebelah kiri. Maka, ini hendak mengatakan Tuhan itu adalah Rabb kepada semua arah.


Ayat 18: Ini kali ketiga perkataan ‘mizan’ diulang

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Rujukan:
Ustaz Rosman
Syeikh Nasir Jangda
Nouman Ali Khan


Disqus Shortname

sigma2

Comments system

[blogger][disqus][facebook]